A. sulit mendapatkan pelayanan dasar dan rendahnya indikator-indikator

A.   
Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan adalah
ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia,
seperti kebutuhan atas makanan, pakaian dan tempat tinggal.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Menurut bahasa,
miskin berasal dari bahasa Arab yang sebenarnya menyatakan orang yang sangat
fakir. Istilah ini sesuai dengan firman Allah SWT yaitu:

???? ?????????? ??? ??????????

                   

 “..atau orang miskin yang sangat fakir”
(QS al-Balad 90: 16). 

 

Kata fakir juga
berasal dari bahasa Arab yaitu al-faqru yang artinya membutuhkan (al-ihtiyaaj)
sesuai dengan firman Allah SWQ yaitu:

???????
??????? ????? ???????? ????? ???????? ??????? ????? ?????? ????? ?????????? ???????
???? ?????? ???????

 

“…lalu dia
berdoa, “Ya Rabbi, sesungguhnya aku sangat membutuhkan
suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS al-Qashash
28:24).

 

Untuk pengertian
yang lebih definitif, menurut Syekh An-Nabhani orang yang dapat dikategorikan
sebagai orang fakir adalah orang yang mempunyai harta (uang) tetapi tidak dapat
mencukupi kebutuhannya. Sementara itu, orang yang digolongkan orang  miskin adalah mereka yang tidak mempunyai
harta (uang), sekaligus tak punya penghasilan. (Nidzamul Iqtishadi fil Islam,
hlm. 236, Darul Ummah-Beirut).

 

Dilakukannya
pengkategorian ini bertujuan untuk memperjelas pengertian dua pos mustahiq
zakat, yakni al-fuqara (orang-orang faqir) dan almasakiin (orang-orang miskin),
sebagaimana firman-Nya dalam QS at-Taubah 9: 60

??????
???????????? ????????????? ??????????????? ??????????????? ????????? ????????????????
??????????? ????? ?????????? ??????????????? ????? ??????? ??????? ???????? ??????????
????????? ???? ??????? ????????? ??????? ???????

 

“Sesungguhnya
zakat zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang
orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk
hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orangorang yang berutang,
untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan,
sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana”

 

B.    
Indikator
Kemiskinan di Indonesia

 

Indikator yang
digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan adalah head count index (HCI),
yaitu jumlah presentase penduduk miskin yang berada dibawah garis kemiskinan.
Garis kemiskinan dihitung dari besarnya rupiah yang dibelanjakan untuk memenuhi
kebutuhan minimum pangan  dan nonpangan per
kapita per bulan. Kebutuhan minimum pangan ditetapkan patokan 2.100 kkal/kapita/hari
seperti yang dianjurkan pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi 1988.
Sedangkan pengeluaran minimum untuk perumahan, bahan bakar, sandang,
pendidikan, kesehatan, dan transport merupakan kebutuhan minimum nonpangan yang
harus dipenuhi (Pudjirahaju, 1999)

Terdapat ciri-ciri yang
dominan dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak penduduk yang
pendapatannya berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yaitu US$1,55 per
hari, menyebabkan banyaknya penduduk yang rentan pada kemiskinan walaupun tidak
termasuk golongan miskin. Kedua, kemiskinan diukur berdasarkan pada penghasilan
seseorang, sehingga batas kemiskinan yang sebenarnya tidak tergambarkan. Banyak
penduduk yang jika dilihat dari segi pendapatan tidak termasuk golongan miskin
tetapi dapat dimasukkan pada golongan miskin karena sulit mendapatkan pelayanan
dasar dan rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, daerah di
Indonesia sangat beragam dan luas, perbedaan antar daerah merupakan ciri
mendasar dari kemiskinan di Indonesia. (Bank Dunia, 2006)

 

 

C.    
Pengentasan Kemiskinan Sesuai
Prinsip-Prinsip Islam

Menurut Wibisono (2010)
islam mempunyai beberapa prinsip-prinsip berkaitan dengan kebijakan public yang
dapat digunakan sebagai panduan bagi program pengentasan kemiskinan dan
sekaligus penciptaan lapangan kerja

Pertama, Islam
mendukung pro-poorgrowth 
yaitu  pertumbuhan ekonomi yang memberi
manfaat luas bagi masyarakat. Untuk mencapai pro-poor growth, salah satu cara yang dilakukan dalam islam
adalah pelarangan riba. Pelarangan riba akan menyebabkan terkendalinya inflasi,
membuat terjaganya daya beli masyarakat dan tercipta stabilitas perekonomian.
Selain itu, cara lain yang digunakan dalam Islam  adalah dengan melakukan kerja sama ekonomi dan
bisnis, seperti muara’ah dan mudharabah. Modal difokuskan pada kegiatan ekonomi
yang bersifat produktif.

Dengan
dilakukannya cara ini, pertumbuhan ekonomi akan berlangsung secara
berkesinambungan akibat dari terciptanya keselarasan diantara sektor riil dan sektor
moneter.

 

Kedua, Islam
mendorong pro-poor budgeting yaitu penciptaan anggaran negara yang
memihak kepada kepentingan rakyat banyak. Dalam sejarah Islam, ada tiga prinsip
utama dalam mencapai pro-poor budgeting yaitu: disiplin fiskal
yang ketat, tata kelola pemerintahan yang benar, dan penggunaan anggaran negara
sepenuhnya untuk kepentingan publik.

Pada
pemerintahan Islam tidak pernah terjadi defisit anggaran meskipun tingginya
tekanan pengeluaran, kecuali satu kali saat perang pada masa pemerintahan Nabi
Muhammad. Melalui good governance, penghematan dan efisiensi anggaran sangat diutamakan. Di dalam
Islam, anggaran negara sangat bertanggung jawab terhadap kepentingan warga
miskin karena anggaran negara merupakan harta publik dan digunakan untuk warga
miskin seperti menyediakan makanan, membayar biaya penguburan dan utang,
memberi pinjaman tanpa bunga untuk tujuan komersial, dan beasiswa bagi yang
belajar agama.

 

Ketiga, Islam
mendorong pro-poor infrastructure yaitu pembangunan infrastruktur
yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Islam mengutamakan pembangunan infrastruktur
yang memiliki dampak positif bagi masyarakat dengan maksud meningkatkan
kapasitas dan efisiensi perekonomian. Pada saat zaman pemerintahan Nabi
Muhammad SAW, di Madinah dilakukan pembagian tanah untuk warga dan digunakan
untuk membangun perumahan, mendirikan pemandian umum disudut kota, membangun
pasar, memperluas jaringan jalan, dan memperhatikan jasa pos.

 

 

D.    Mengatasi
Kemiskinan dari Diri Sendiri

 

Pengentasan
kemiskinan bisa dimulai dari diri sendiri. Allah SWT menegaskan kepada umat
manusia untuk senantiasa tidak bersikap malas-malasan. Melalui firman-Nya Allah
SWT memerintahkan kepada umat manusia untuk berusaha dan bekerja agar bisa
memperoleh rezeki dan anugerah dari-Nya.

 

Didalam al-Quran ditegaskan:

??????? ???????? ?????????? ????????????? ???
????????? ??????????? ???? ?????? ??????? ??????????? ??????? ????????
??????????? ???????????

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumuah (62):10)

Bahkan di Al-Quran dijelaskan bahwa seseorang
tidak diperbolehkan untuk  menganggur sepanjang saat yang dialami dalam
kehidupan dunia ini.  Firman Allah SWT:

??????? ????????
?????????                                                    

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu
urusan) tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain) (QS. Al-Insyirah;
94: 7).

Himbauan agar manusia senantiasa bekerja keras merupakan
salah satu cara pengentasan kemiskinan yang dikarenakan perilaku malas dan
rendahnya kemauan serta sifat negatif lainnya. Sifat pekerja keras ini perlu
ditingkatkan pada orang yang kemauannya rendah supaya muncul semangat untuk
bekerja mengubah nasibnya. Sebagaimana firman Allah SWT

????? ??????? ??? ????????? ??? ???????? ??????
??????????? ??? ??????????????

… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan
suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..(QS.
Al-Ra’d,13:11)

x

Hi!
I'm Johnny!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out