Abstrak menghadapi beberapa kendala dalam pengajaran dan pengajaran

Abstrak

Dalam dunia
pendidikan kemampuan berbicara itu memang sangat menantang, sehingga tidak
mudah untuk dicapai. Guru dan siswa pun mungkin sering kali menghadapi beberapa
kendala dalam pengajaran dan pengajaran berbicara. Dengan demikian penelitian
ini bertujuan untuk mencoba mengetahui perbedaan keterampilan berbicara antara
kelompok siswa yang dibelajarkan dengan metode storytelling dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan
pembelajaran konvensional pada siswa kelas sebelas SMA Tangerang tahun
pelajaran 2017/2018.Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment).Dalam penelitian ini
melibatkan 35 orang siswa masing-masing dari tiap kelompok, kelompok eksperimen
dengan teknik pembelajaran storytelling
dan kelompok kontrol dengan teknik pembelajarankonvensional.Hasil penelitan ini
menunjukan bahwa terdapat perbedaan keterampilan berbicara yang signifikan
antara dua kelompok. Perbandingan hasil perhitungan rata-rata keterampilan
berbicara siswa dengan teknik pembelajaran storytelling
adalah 32,78 lebih besar dari rata-rata keterampilan berbicara siswa dengan
teknik pembelajaran konvensional adalah 28,5. Hasil penelitian ini menunjukan
bahwa teknik pembelajaran Storytelling berpengaruh
terhadap peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas sebelas SMA Tangerang
tahun pelajaran 2017/2018.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Latar Belakang

Dalam hakikatnya
manusia adalah makhluk sosial, tidak mampu memenuhi kebutuhannya dengan
kemampuannya sendiri. Maka dari itu manusia saling membutuhkan satu sama lain
dengan cara berinteraksi agar kebutuhannya terpenuhi. Dalam berinteraksi
berbicara adalah bagian dari kemampuan bahasa yang terpenting bagi manusia.

Dibia, dkk (2007)
menyatakan bahwa “fungsi utama bahasa adalah sebagai alam komunikasi”.Seseorang
memang didesak oleh kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang di
sekelilingnya.Maka dari itu manusia dituntut untuk memiliki kemampuan berbahasa
yang baik sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan gagasan atau menyampaikan
pesan.Dalam dunia pendidikan di Indonesia bahasa memegang peranan yang sangat
penting.Pendidikan di Indonesia menempatkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu
mata pelajaran yang wajib di sekolah.Menurut (Hairuddin, dkk 2007)
“pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah bertujuan meningkatkan kemampuan
siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis.”

Taujuan dari
keterampilan berbicara itu memang menjadi tantangan yang tidak mudah.Beberapa
masalah dalam pengejaran dan pembelajaran memang sering kali dihadapi oleh guru
dan siswa.Kondisi yang tidak nyaman terkadang muncul dari guru yang menggunakan
teknik monoton. Kegiatan proses belajar mengajar dalam kelas biasanya cenderung
berfokus pada guru dan siswa hanya pasif dan mendengarkan saja. Maka hal ini
lah yang mejadi tantangan bagi para guru untuk mengendalikan keberhasilan siswa
dalam belajar dan membuat siswa harus lebih aktif dan kreatif.

Terkait masalah
tersebut guru harus berusaha mengembangkan keterampilan berbicara siswa yang
berperan dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang kreatif, cerdas,
kritis, dan berbudaya. Menurut Arini, dkk (2006:49) “keterampilan berbicara
atauberbahasa lisan merupakan keterampilan yang dimiliki oleh setiap individu
untuk berpartisipasi dengan lingkungannya”. Dengan begitu siswa mampu
menyampaikan pendapat, pengetahuan, pikiran dan perasaannya kepada orang lain.

Berdasarkan
pendapat-pendaat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan alat yang
sangat penting dimiliki seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Bahasa
juga berperan penting dalam dunia pendidikan.Pada dasarnya setiap orang
memiliki kemampuan untuk berbicara, tetapi tidak semua orang juga memiliki
keterampilan dalam berbicara. Seorang siswa di sekolah harus memiliki
keterampilan dalam berbicara karena hal tersebut berkaitan langsung dengan
proses belajar siswa di sekolah. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti
proses belajar juga di tentukan oleh keterampilan berbicara mereka. Dalam hal
ini guru juga memiliki peran yang penting dalam melatih keterampilan berbicara
siswa.

Metode

Jenis metode
yang yang dilakukan adalah penelitan eksperimen semu (Quasi Eksperiment).Eksperimen semu adalah jenis penelitan yang
tidak memungkinkan peneliti mengontrol secara ketat variable-variabel dalam
penelitian yang ada.Dalam penelitian ini, yang diuji adalah keefektifan
penerapan pembelajaran dengan metode storyteliing
dan pembelajaran dengan metode konvensional terhadap keterampilan
berbicara.Karena dengan metode eksperimen semu penempatan subjek ke dalam
kelompok yang dibandingkan tidak dilakukan secara acak tetapi subjek sudah ada
dalam kelompok yang dibandingkan sebelum diadakannya penelitian.

Populasi dalam
penelitian ini adalah kelas sebelas SMA X di Tangerang yang terdiri dari enam
kelas, dengan jumlah siswa 185 orang. Dari enam kelas tersebut diambil dua
kelas, satu kelas dijadikan sebagai kelas eksperimen dengan metode storytelling  dan satu kelas lagi dijadikan sebagai kelas kontrol
dengan metode konvensional.

Sampel dalam
penelitian ini adalah kelas yang memiliki rentang kemampuan yang sama yang
sudah ada. Kelas yang dijadikan sampel penelitian ini adalah dua kelas, kelas
pertama adalah kelompok eksperimen dengan metode storytelling dan kelompok kontrol dengan metode konvensional.
Setiap kelas terdiri dari 35 siswa, jadi total sampel adalah 70 siswa.

Diskusi penelitian

Terkait dengan
masalah guru harus mengembangkan kegiatan berbicara siswa, guru harus
menciptakan situasi belajar yang baik dalam membuat siswa senang, tertarik, dan
termotivasi dalam belajar. Motivasi belajara dapat ditingkatkan dengan
menciptakan media yang baik, situasi yang kondusif, aktivitas kreatif, dimana
siswa akan aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Ada banyak teknik yang
bisa diterapkan dalam mengajar berbicara, mendongeng adalah salah satu teknik
yang bisa diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Menurut
Thornburry (2005) berbicara adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang kita
anggap remeh. Brown (2001) mendefinisikan berbicara sebagai proses interaktif
untuk membangun makna, yang melibatkan produksi, penerimaan, dan pemrosesan
informasi. Bentuk dan maknanya bergantung pada konteks di mana ia terjadi, termasuk
peserta, pengalaman kolektif mereka, lingkungan fisik, dan tujuan berbicara.
Berkaitan dengan proses interaksi, mereka yang terlibat dalam interaksi akan
mendapatkan umpan balik yang berharga satu sama lain.

Berbicara juga
dianggap sebagai aspek yang sangat penting dalam belajar bahasa. Mengajar
berbicara berarti mengajar siswa untuk menghasilkan pola suara dan suara ucapan
dalam bahasa, menggunakan kata-kata, pola intonasi, memilih kata-kata dan
kalimat yang sesuai dengan setting sosial, untuk mengatur pemikiran mereka
dalam urutan yang berarti dan logis. Burns and Joyce menyatakan bahwa salah
satu aspek terpenting dalam berbicara adalah bahwa hal itu selalu terjadi dalam
konteks.Ketika kita berbicara, kita berdua menggunakan bahasa untuk menjalankan
berbagai fungsi sosial dan memilih bentuk-bentuk bahasa yang berhubungan dengan
konteks budaya dan sosial.

Namun terkadang
siswa memiliki beberapa masalah saat mereka benar-benar ingin berbicara di
depan umum, atau msalnya di depan kelas. Menurut Ur (1996) masalah dalam
kegiaan berbicara adalah sebagai berikut:

1.     
Penghambatan. Siswa sering
terhambat untuk mencoba hal-hal di kelas bahasa asing, takut melakukan
kesalahan atau dikritik, dan malu mengucapkan kata-kata.

2.     
Tidak ada yang bisa dikatakan.
Siswa terkadang menemukan kesalahan bahwa mereka tidak memiliki sesuatu untuk
dikatakan. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengekspresikan diri.

3.     
Partisipasi rendah atau tidak
merata. Hanya satu peserta yang berbicara, karena beberapa peserta didik
mendominasi, sementara yang lain berbicara sedikit atau tidak sama sekali.

4.     
Penggunaan lidah ibu. Di kelas,
semua siswa berbagi bahasa ibu yang sama, sehingga mereka merasa tidak wajar
untuk berbicara dalam bahasa asing. Mereka juga kurang terpapar dan les
disiplin atau termotivasi.

Burns and Joyce
(1999) mengidentifikasi tiga faktor yang dapat menyebabkan siswa enggan untuk
mengambil bagian dalam tugas kelas yang melibatkan berbicara. Mereka mengatakan
bahwa peserta didik tidak mau berpartisipasi dalam tugas berbicara karena
faktor budaya, faktor linguistik dan faktor psikologis atau afektif:

1.     
Faktor budaya. Faktor budaya
berasal dari pengalaman belajar dan harapan siswa sebelumnya yang diciptakan
oleh pengalaman ini.

2.     
Faktor linguistik. Faktor
linguistik yang menghambat siswa untuk berbicara meliputi (1) kesulitan dalam
mentransfer dari bahasa pertama siswa ke pola suara, irama, dan stres bahasa
Inggris, (2) kesulitan dengan pengucapan pembicara asli guru, (3) kurangnya
memahami pola gramatikal umum dalam bahasa Inggris dan bagaimana perbedaannya
dengan bahasa mereka sendiri, (4) kurangnya keakraban dengan pengetahuan budaya
atau sosial yang dibutuhkan untuk mengolah makna.

3.     
Faktor Psikologis atau Afektif.
Faktor psikologis atau afektif merupakan salah satu faktor dominan yang dapat
mempengaruhi pembelajaran bahasa terutama berbicara. Faktor-faktor tersebut
meliputi (1) kejutan budaya, terutama ketika kedatangan baru datang ke negara
baru, (2) pengalaman sosial atau politik negatif sebelumnya, seperti perang
atau trauma pribadi, (3) kurangnya motivasi, terutama di mana mereka mungkin
tidak memiliki dipilih untuk belajar, memiliki pandangan negatif terhadap
budaya bahasa target atau tidak melihat tujuan belajar bahasa, (4) kecemasan
atau rasa malu di kelas, terutama jika pengalaman belajar dan bahasanya
sebelumnya negatif, dan (5) persepsi, beberapa di antaranya mungkin juga
bersifat budaya (misalnya mereka terlalu tua untuk belajar bahasa baru).

Secara garis
besar, masalah dalam berbicara bisa terjadi pada siswa dalam proses belajar
mengajar. Jadi, dalam mengajar berbicara guru harus selalu mendorong para
siswanya agar tidak berkecil hati saat melakukan kesalahan. Guru harus mengerti
bahwa dengan membuat kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Ajaran berbicara
dalam bahasa target harus memungkinkan siswa untuk menggunakan bahasa secara
lisan untuk banyak tujuan. Keberhasilan proses belajar mengajar bisa tercapai
jika guru bisa mempresentasikan materi sedemikian rupa sehingga bisa meningkatkan
minat siswa. Guru harus kreatif dalam menyajikan materinya kepada siswa. Mereka
juga harus mempraktekkan berbagai teknik pengajaran, dengan hati-hati memilih
bahan, dan menggunakan media instruksional yang menarik yang sesuai bagi siswa
untuk membantu mereka berbicara dalam bahasa.Selain itu juga ada banyak
kegiatan dalam kelas yang bisa digunakan dalam pengajaran bahasa, seperti
akting dari naskah, permainan komunikasi, diskusi, diskusi yang dipersiapkan,
serta simulasi dan permainan peran.

MenurutWalter
Ong dalam “Orality and Literaci”mendongeng adalah mengkomunikasikan kejadian
melalui penggunaan kata dan bunyi.Ini adalah seni ekspresi dan improvisasi,
yang berkisar pada plot dan sudut pandang narasi.Ada sejumlah jenis cerita yang
berbeda yang dibagi dalam berbagai budaya di dunia, yang bertujuan untuk
menyebarkan nilai-nilai moral, hiburan, inspirasi dan nasehat.

Cerita juga
dapat dijadikan sebagai cara orang mengkomunikasikan pengalaman mereka, cara
mereka memahami pengalaman orang lain, cara mereka membebaskan imajinasi
mereka, cara mereka memahami dunia dan posisi mereka sendiri di dalamnya.
Cerita adalah bagaimana orang memahami diri dan dunia mereka.Ada beberapa jenis
dan tujuan pengisahan cerita, cerita budaya, cerita keluarga, cerita pribadi,
dan pengisahan cerita apokrif:

1.     
Cerita Budaya

Pengisahan budaya didefinisikan dengan
mentransmisikan dan menyampaikan nilai, moral dan kepercayaan tertentu.Cerita-cerita
ini diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk yang menarik dan mudah
diingat.Cerita yang diberikan kepada anak-anak dalam upaya mengajari mereka
makna agama dapat dipahami sebagai cerita budaya.

2.     
Cerita Keluarga

Pengisahan cerita keluarga dianggap
sebagai sejarah keluarga yang diucapkan, mempertahankan dan melestarikan
serangkaian panjang berbagai kejadian dan pengalaman, sekaligus menjaga tradisi
dan harapan tetap tinggi.Mendongeng bahwa menyangkut warisan keluarga
memungkinkan identitas keluarga muncul, sering membawa serta ciri-ciri terbaik
dari sejarah leluhur sebagai pengingat untuk hidup sesuai dengan sesuatu.Jenis
cerita ini bisa memberi mereka yang mendengarnya dengan motivasi untuk hidup
sampai prestasi keluarga masa lalu.

3.     
Cerita Pribadi

Melalui hidup, semua orang dalam proses
penulisan cerita pribadi yang terus-menerus dan terus-menerus. Cerita-cerita
itu terbentuk secara pribadi dan menyangkut kehidupan individu.Mereka terdiri
untuk mengingat, mengubah dan menemukan makna hidup. Melalui pengisahan cerita
pribadi, teller mampu berbagi pengalaman dengan orang lain dan mungkin
memotivasi dan menginspirasi. Pengisahan cerita pribadi mungkin juga berbentuk
biografi atau novel biografi.

4.     
pengisahan Cerita Apokrif

Cerita apokrif dipresentasikan kepada
pendengar sebagai kebenaran yang tidak mungkin dan seringkali tidak dapat
dipercaya, atau cerita yang meragukan diceritakan sebagai fakta.Cerita-cerita
ini lebih dikenal sebagai “mitos perkotaan.””Apokrif”
berasal dari kata Yunani “apocrypho”, yang berarti
“tersembunyi.”Umumnya, ini adalah jenis cerita yang berkisar pada
hal-hal yang berbau atau hal itu tidak bisa sepenuhnya dipahami.

Hasil dari Penelitan

Data penelitian
ini adalah nilai keterampilan berbicara siswa dari penerapan metode storytelling pada kelompok eksperimen
dan metode pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol.Berikut merupakan
data hasil penghitungan nilai keterampilan berbicara siswa kelas sebelas SMA X
di Tangerang dengan jumlah responden 70 siswa.

Tabel 1.Rekaptulasi
hasil penghitungan nilai keterampilan berbicara siswa.

 

No

Data
 
Statistick

Keterampilan Berbicara

Kelompok Eksperimen

Kelompok Kontrol

1

Mean

32,84

28,5

2

Median

33,35

28,1

3

Modus

35,7

25,13

4

Varians

10,43

12,07

5

Standar
Deviasi

3,23

3,47

6

Nilai
Minimum

26

24

7

Nilai
Maximum

37

36

8

Rentangan

2

2

 

Dari Tabel 1,
dapat dideskripsikan yaitu mean (M)=32,84 median (Md)=33,35 modus (Mo)=35,7
varians (S2)=10,43 dan standar deviasi (s)=3,23 nilai minimum
(min)=26 nilai maximum (max)=37 rentangan = 2. Frekuensi data keterampilan
berbicara siswa pada kelas eksperimen dengan metode storytelling dideskripsikan ke dalam gambar berikut :

 

 

Gambar 1. Kurva
Data Keterampilan Berbicara Siswa Kelompok Eksperimen

Berdasarkan
kurva di atas, diketahui bahwa modus lebih besar dari median dan median lebih
besar dari mean (Mo>Md>M). Dengan demikian, kurva di atas adalah kurva
juling negatif yang berarti sebagian besar nilai cenderung tinggi.Frekuensi
relatif nilai yang berada di atas rata-rata lebh besar dibandingkan frekuensi
relaif nlai yang berada di bawah rata-rata.Untuk mengetahui kualitas dari
variabel keterampilan berbicara pada kelas eksperimen, nilai rata-rata ideal (Mi)
dan standar deviasi ideal (si). Berdasarkan hasil konversi, diperoleh bahwa
nilai rata-rata keterampilan berbicara siswa kelompok eksperimen dengan M = 32,84
tergolong kriteria sangat baik.

Dari Tabel 1,
dapat dideskripsikan yaitu mean (M)=28,5 median (Md)=28,1 modus (Mo)=25,13
varians (S2)=12,07 dan standar deviasi (s)=3,47 nilai minimum
(min)=24 nilai maximum (max)=36 rentangan = 2. Frekuensi data keterampilan
berbicara siswa pada kelas kontrol dengan metode konvensional dideskripsikan ke
dalam gambar berikut :

Gambar 2. Kurva
Data Keterampilan Berbicara Siswa Kelompok Kontrol

Berdasarkan kurva di atas, diketahui bahwa mean lebih besar dari median dan
median lebih besar dari modus (M>Md>Mo). Dengan demikian, kurva di atas
adalah kurva juling positif yang berarti sebagian besar nilai cenderung rendah.Frekuensi
relatif nilai yang berada di atas rata-rata lebih kecil dibandingkan frekuensi
relatif nilai yang berada di bawah rata-rata.Untuk mengetahui kualitas dari
variabel keterampilan berbicara siswa pada kelas kontrol, nilai rata-rata
keterampilan berbicara dikonversikan dengan menggunakan kriteria rata-rata
ideal (Mi) dan standar deviasi ideal (si). Berdasarkan hasil konversi,
diperoleh bahwa nilai rata-rata keterampilan berbicara kelompok kontrol dengan
M = 28,5 tergolong kriteria baik.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil
penelitian,dapat disimpulkan bahwaterdapat perbedaan keterampilan berbicarayang
signifikan antara kelompok siswayang dibelajarkan dengan metodestorytelling dan kelompok siswa yang dibelajarkan
dengan metode pembelajaran konvensional.Kualifikasi keterampilan berbicara
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode Storytelling berada pada
kategori sangat baik sedangkan keterampilan berbicara siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan metode pembelajaran konvensional berada pada kategori baik.

x

Hi!
I'm Johnny!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out