Anemia sebesar 26,5% remaja putri mengalami anemia

Anemia merupakan salah satu permasalahan
kesehatan di dunia terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. WHO mengatatakan bahwa anemia merupakan 10 masalah
kesehatan terbesar di abad modern ini. Menurut World Health Organization (WHO) 2015 Anemia didefinisikan sebagai
konsentrasi hemoglobin darah rendah, anemia terbukti sebagai masalah kesehatan
masyarakat yang mempengaruhi negara berpenghasilan rendah, menengah dan tinggi
dan memiliki dampak yang dapat merugikan
kesehatan dan memiliki dampak buruk pada pembangunan sosial dan ekonomi.

Kejadian anemia
menyebar hampir merata di berbagai wilayah di dunia, namun lebih cenderung
berlangsung di Negara sedang berkembang daripada Negara maju. Dari
3.800.000.000 juta penduduk Negara maju 36% diantaranya menderita anemia jenis
ini, sedangkan dinegara maju hanya sekitar 8% yang menderita anemia. Anemia
umumnya dialami oleh wanita, WHO menyebutkan dalam worldwide prevalence of anemia 1993-2005 sebanyak 1,62 miliar orang
penduduk dunia menderita anemia dengan prevalensi sebesar 24,8%. Anemia banyak
diderita oleh wanita hamil dengan prevalensi sebesar 55,9% (WH0,2008).
Berdasarkan regional, prevalensi anemia pada ibu hamil tertinggi adalah Asia
Tenggara dengan persentase 75%, lalau Mediterania Timur 55%, Afrika 50% dan
Wilayah Pasifik Barat, Amerika Latin Dan Karibia 40% (MOST , 2004 dalam
Briawan, 2012)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Bukan hanya pada wanita
hamil, WHO juga menyebutkan remaja juga rentan menderita anemia, sebesar 30-55%
remaja di dunia dilaporkan  menderita
anemia (WH0,2008). Tahun 2011 menurut WHO secara global sebesar 29% wanita usia
subur mengalami anemia (WHO,2015). Di Indoneisa anemia masih menjadi salah satu
masalah kesehatan pada wanita yang belum sepenuhnya ditangani, penyebab anemia
di Indonesia

umumnya akibat kekurangan asam folat, penyakit
infeksi, cacingan dan penyakait kronis. Sedangkan berdasarkan usia remaja putri
memiliki risiko paling tinggi terkena anemia karena terjadinya peningkatan
kebutuhan zat gizi akibat menstruasi (Tarwoto & Wasnidar, 2007)

Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
pada tahun 2001 sebesar 26,5% remaja putri mengalami anemia ( Bambang, 2007). Tahun 2011 persentase anemia pada wanita usia subur
di Indonesia adalah sebesar 23%. Sedangkan tahun 2013 di Indonesia
prevalensi anemia yaitu 21,7% dengan proporsi 20,6% diperkotaan dan 22,8% di
pedesaan, sedangkan anemia menurut umur memiliki prevalensi 26,4% pada umur
5-14 tahun dan 18,4% pada kelompok umur 15-24 tahun (Depkes RI,2013).

Masalah gizi yang
terjadi pada dasarnya adalah masalah kesehatan masyarakat. Masalah gizi sangat
luas sehingga tidak dapat dilakukan penanggulangan dengan pelayanan individu
atau medis satu persatu. Penyebab masalah gizi yang terjadi di masyarakat juga
ditimbulkan dari berbagai macam faktor. Masalah gizi utama di Indonesia yakni
Kekurangan Energi Protein (KEP, masalah Anemia Besi, Kekurangan Vitamin A, dan
Gangguan akibat kekurangan Yodium (Wiboworini,2007).

Anemia pada remaja
putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat  bila prevalensinya lebih dari 15% (SKRT,
2001). Meskipun salah satu masalah gizi masyarakat selama bertahun-tahun penanganan
dalam upaya menurunkan angka pravalensi anemia masih dinilai sangat rendah
(WHO,2004). Anemia pada remaja  putri
dapat menyebabkan menurunnya kesehatan reproduksi, terhambatnya perkembangan
motorik , mental dan kecerdasan, tingkat kebugaran menurun, dan tidak
tercapainya tinggi badan maksimal (Adriani & Wirjatmadi, 2012).

Masa remaja merupakan
periode pertumbuhan anak-anak menuju proses kematangan manusia dewasa. Pada
periode ini terjadi perubahan fisik, biologis dan psikologis yang sangat unik
dan berkelanjutna. Perubahan fisik yang terjadi akan mempengaruhi status
kesehatan dan nutrisinya. Ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan
kebutuhan akan menimbulkan masalah gizi, baik berupa masalah gizi lebih ataupun
gizi kurang (Briawan, 2013)

Menurut riset kesehatan
dasar  tahun 2013 ditemukan bahwa
prevalensi remaja sangat kurus 31,7%, kurus 15,5%, prevalensi
kurus pada remaja umur 13-15 tahun adalah 11,1 persen terdiri dari 3,3 persen
sangat kurus dan 7,8 persen kurus (Depkes RI, 2013).
Prevalensi sangat kurus terlihat paling rendah di Bangka Belitung (1,4 %) dan
paling tinggi di Nusa Tenggara Timur (9,2%). Sebanyak 17 provinsi dengan
prevalensi anak sangat kurus (IMT/U) diatas prevalensi nasional yaitu Riau,
Aceh, Jawa Tengah, Lampung, Jambi, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan,
Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Banten, Papua, Sumatera Selatan, Gorontalo,
Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur (Depkes RI, 2013).

Pada siklus kehidupan
masa remaja merupakan masa pertumbuhan yang terjadi sangat pesat setelah bayi,
seperti  25% tinggi badan manusia
diperoleh pada saat masih remaja (Bwiawan, 2013). Data Administrative Committee onr Coordination (ACC) menyebutkan
kebanyakan perilaku remaja kualitas pangan yang buruk merupakan penyebab utama
masalah gizi. Aktivitas fisik yang berlebihan, infeksi penyakit kemungkinan
juga menyebabkan rendahnya status gizi pada remaja (ACC, 2000 dalam Briawan,
2013)

Masa remaja merupakan
tahapan kritis siklus kehidupan sehingga masa tersebut dikategorikan sebagai
kelompok rawan, dan memilki risiko kesehatan tinggi, akan tetapi kurang
mendapat perhatian dalam program pelayanan kesehatan. Padahal kenyataannya
kebanyakan kasus kesehatan saat dewasa ditentukan oleh kebiasaan hidup sejak
remaja. Status gizi yang optimal pada usia remaja dapat mencegah penyakit yang
terkait dengan diet pada usia dewasa. Kekurangan gizi saat remaja seperti
terlalu kurus atau pendek akibat kurang energi kronis sering tidak diketahui
oleh remaja tersebut ataupun keluarganya, 
sehingga hal tersebut dapat menyebabkan kemampuan untuk belajar dan
bekerja tidak maksimum, meningkatkan risiko jika remaja tersebut hamil, dan
membahayakan bayi yang akan dilahirkan (Briawan, 2013).

Beberapa jenis anemia
dapat diakibatkan oleh defisiensi zat gizi, infeksi atau genetik. Anemia juga
dapat terjadi karena adanaya parasit berupa cacing dalam tubuh, pendarahan
akibat kecelakaan atau menstruasi. Kebanyakan remaja yang mempunyai status zat
besi rendah juga berisiko terkena anemia pola konsumsi seperti vegetarian,
konsumsi pangan hewani yang rendah atau terbiasa melewatkan waktu makan juga
terbukti dapat menyebabkan anemia (Briawan, 2013). Sumber lain menyebutkan
anemia dapat terjadi karena kekurangan zat gizi dalam makanan yang dikonsumsi
serta kemiskinan dan pengaruh budaya juga dapat menjadi fakor penyebab anemia,
hal lain seperti tidak optimalnya penyerapan zat besi karena penyakit seperti
diare dan kehilangan darah yang banyak akibat terluka atau menstruasi juga
dapat menyebabkan anemia (Tarwoto & Wasnidar, 2007)

Sedangkan menurut Departemen
Kesehatan Republik Indonesia tahun 2003 anemia pada remaja putri adalah
konsumsi hewani yang kurang dan tingginya konsumsi nabati serta kurangnya
asupan Fe, seringnya melakukan diet atau melewatkan waktu makan karena ingin
menurunkan berat badan ataupun mempertahankan berat badan, menstruasi yang
dialami remaja putri setiap bulan juga berpengaruh dalam kejadian anemia remaja
putri (Depkes RI, 2003).

Dari hasil studi secara
acak yang dilakukan di Indonesia, prevalensi anemia remaja cukup beragam. Prevalensi
anemia di SMA Jawa Tengah 57,4% dan Jawa Timur 80,2% (Depkes RI, 2003)
sedangkan studi yang dilakukan di kalangan mahasiswi peguruan tinggi sebesar
25% (Briawan dkk,2008).

Menurut penelitian yang
dialkukan oleh Wahyu Putri Handayani status gizi yang ditentukan dengan IMT
tidak mempengaruhi kejadian anemia pada remaja putri di SMAN 8  Pekanbaru (Handayani dkk, 2014)  , namun penelitian yang dilakukan oleh Dewi
Permaesih tahun 2005 ditemukan hubungan bermakna antara IMT dengan kejadian
anemia pada remaja putri dimana remaja tergolong kurus dengan IMT dibawah 18,5
memiliki kecenderungan mengalami anemia sebesar 1,4 kali (Permaesih
& Herman  2005).

Sebagian besar anemia
di Indonesia disebabkan oleh kekurangan zat besi (Wiboworini, 2007). Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Damayanti Siallgalan tahun 2016 ditemukan hubungan yang signifikan antara
asupan Fe dengan kejadian anemia pada remaja (Siallgalan
D, et al, 2016)  namun sebaliknya penelitian yang dilakukan
Suci Novitasari tahun 2014  menemukan
tidak ada hubungan antara asupan Fe terhadap kejadian anemia pada remaja putri
di SMA batik 1 Surakarta (Novitasari, 2014). Tablet Fe merupakan tablet yang
dikonsumsi guna meningkatkan zat besi dalam darah. Zat besi merupakan
mikroelemen yang esensial bagi tubuh. Zat ini terutama diperlukan dalam
hemoobesis (pembentukan darah) yaitu dalam sintesis hemoglobin (Adriani & Wirjatmadi , 2012).

Data prevalensi anemia pada remaja putri untuk
Dinas Kesehatan Provinsi Jambi belum
ada, hal ini disebabkan karena
kegiatan pemantauan kejadian anemia secara rutin belum sepenuhnya dilakukan. Hal yang sama juga ditemukan di Dinas Kesehatan
Kabupaten Merangin, belum adanya data anemia remaja putri ataupun data
pemeriksaan hemoglobin, namun untuk kasus anemia di Kabupaten merangin
ditemukan sebanyak 3299 kasus. Tetapi bila dilihat berdasarkan hasil
pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) yang dilakukan oleh petugas Puskesmas Pasar Baru Tabir di Sekolah Menengah Pertama Negeri
(SMPN) 2 Merangin wilayah kerja  Puskesmas Pasar Baru Tabir pada januari tahun 2017 ditemukan
bahwa kadar HB remaja putri masih tergolong rendah yakni masih banyak ditemukan
remaja putri dengan kadar HB 7 mg% sedangkan normalnya
HB wanita 11,5 mg% (Syaifuddin, Ester Monica, 2006)  atau
12 mg% (WHO,2008) . Kegiatan rutin pemeriksaan kadar HB remaja putri  ini merupakan salah satu program
di Puskesmas Pasar Baru Tabir.

x

Hi!
I'm Johnny!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out