BAB dipakai dan tidak dipindahtangani karena mereknya sudah

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Dalam menjalani kehidupan
sehari-hari, busana adalah salah satu kebutuhan pokok yang akan selalu
dikenakan. Hampir tidak ada kegiatan dimana mengenakan busana tidak diperlukan.
Justru dengan banyaknya kegiatan, busana pun dibuat sesuai dengan beraneka
fungsi sesuai kegiatan pemakainya.

            Keanekaragaman busana tidak lepas
dari turut andilnya para desainer atau perancang busana. Mulai dari beraneka
ragam model, warna, hingga fungsi yang kian bervariasi dan berkembang seiring
dengan pesatnya kemajuan teknologi.

            Meskipun kini busana sudah beraneka
ragam baik dari segi model maupun fungsi, selera pemakai tetap menjadi faktor
utama dalam proses pemilihannya. Busana bukan hanya sekedar selembar kain yang
menutupi bagian tertentu tubuh. Terutama di era modern seperti sekarang, dimana
busana disebut-sebut sebagai jati diri orang yang memakainya.

            Para perancang busana pun
berlomba-lomba menghadirkan sejumlah desain busana yang menarik, dan
proporsional serta terlihat pantas di tubuh para konsumen. Perancang dengan
jenis busana yang setipe biasanya bernaung dalam suatu merek busana yang
mewakilkan desain mereka.

            Busana yang bersih dan sesuai dengan
kriteria pemakai akan membuat pemakai merasa senang dan tentu lebih indah
dipandang mata. Selain itu, mengenakan busana yang pantas juga dapat
memengaruhi kedudukan sosial seseorang di masyarakat sekitarnya. Maka secara
tidak langsung, mengenakan busana yang nyaman dapat menaikkan kepercayaan diri
pemakainya sehingga lebih leluasa untuk beraktivitas karena terdapat hal
positif dalam pikiran si pemakai busana tersebut.

            Akan tetapi, sering kali konsumen kurang
bijak memillih dan menjaga busana yang telah dimilikinya. Hanya sekedar dibeli
karena produk dari merek tertentu, bahkan tidak dipakai dan tidak
dipindahtangani karena mereknya sudah tidak popular lagi merupakan masalah
klasik dari konsumsi yang tidak bertanggung jawab di kalangan remaja. Dalam
Islam, hal tersebut termasuk perbuatan yang mubazir
yang pastinya kurang disukai oleh Tuhan dan tidak sepatutnya dilakukan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1    
Merek

2.1.1
Definisi Merek

                      Merek adalah suatu tanda
yang bisa berupa gambar, nama, kata, susunan huruf atau angka, susunan warna,
atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan
digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.

 

2.1.2
Faktor Pendukung Terkenalnya Suatu Merek

                      Beberapa kriteria yang
membuat suatu merek menjadi popular adalah sebagai berikut :

1.     
Menarik sehingga mudah diingat atau
diucapkan

2.     
Mengandung makna atau deskripsi dari
produk

3.     
Desain visual atau kemasan yang
imajinatif

4.     
Fleksibel dan dapat diterima oleh pasar
atau budaya lain

5.     
Kualitas pemasaran dan produknya tinggi,
serta feedback positif yang dapat dibaca oleh umum

 

2.1.3
Pengaruh Merek terhadap Kehidupan Sehari-Hari

            Dalam menjalani
aktivitas sehari-hari, setiap orang tidak luput dari penggunaan suatu produk
maupun jasa dari suatu merek. Merek yang digunakan dalam 1 aktivitas pun tidak
selalu sama, tergantung pada berbagai macam faktor dari pengguna produk atau
jasa itu sendiri. Begitu juga dengan kualitas dan kuantitas penggunaannya.

            Sering kali suatu merek menggunakan
logo atau gambar dengan warna yang tampak mencolok agar mudah dikenali dan
dapat dibedakan dari merek lain yang menjual produk atau jasa yang sejenis.
Namun tidak sedikit juga logo atau gambar dari suatu merek yang memiliki
kemiripan. Biasanya kemiripan terjadi pada warna ketika produk atau jasa yang
sejenis yang memiliki warna tersebut sudah dikenali oleh masyarakat dalam waktu
yang lama dan memiliki popularitas yang baik dan kualitas yang terjaga seiring
berjalannya waktu dan banyaknya merek pesaing.

            Jika konsumen dari suatu merek
tertentu merasa tidak puas dengan produk atau jasa yang dikonsumsinya, maka
biasanya konsumen akan mengganti merek produk atau jasa yang dikonsumsi dengan
produk atau jasa yang sejenis dari merek yang berbeda hingga menemukan produk
atau jasa yang sesuai dengan keinginan atau kebutuhan konsumen tersebut.

            Tidak jarang pula pergantian produk
atau jasa tersebut didasari oleh harga. Kebanyakan konsumen akan
memprioritaskan produk atau jasa yang harganya murah atau terjangkau. Ketika
suatu produk atau jasa yang biasa dikonsumsi mengalami kenaikan harga, biasanya
tidak sedikit konsumen yang beralih ke merek lain dalam kategori produk atau
jasa yang sejenis. Namun ada juga sebagian konsumen yang tidak masalah dengan
harga, menyesuaikan dengan prinsip “ada harga, ada kualitas”.

            Pada
akhirnya, merek yang akan memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari
konsumennya adalah merek yang dapat memberikan kepuasan maksimal dari setiap
produk atau jasa yang dihasilkan sehingga dapat mempertahankan kepercayaan
konsumen serta memiliki logo atau gambar yang mudah diingat, dikenali, dan
dibedakan dari merek yang lain..

2.2    
Busana

2.2.1
Definisi Busana

                      Menurut
bahasa, busana adalah segala sesuatu yang menempel pada tubuh dari ujung rambut
hingga ujung kaki. Sedangkan menurut istilah, busana adalah busana yang kita
kenakan setiap hari dari ujung rambut sampai ujung kaki beserta segala
perlengkapannya.

                      Pada masa lampau sebelum
manusia mengenal tenunan, bahan yang dijadikan busana berasal dari alam atau
lingkungan sekitar, baik berupa kulit binatang, kulit batang pohon, maupun
daun. Fungsinya juga hanya sebagai penutup bagian tertentu tubuh, seperti dada
dan lingkar pinggang atau panggul. Bentuknya pun sederhana, yaitu segiempat
yang cara memakainya hanya dililitkan atau dilubangi untuk memasukkan kepala.

                      Seiring berjalannya waktu
dan berkembangnya ilmu pengetahuan, busana memiliki arti yang lebih spesifik.
Seperti pengertian busana menurut Ilmu Tata Busana yang merupakan bahan tekstil
atau bahan lainnya yang sudah dijahit atau tidak dijahit dan dipakai untuk
membalut dan menutupi bagian tubuh seseorang baik yang langsung menutupi kulit
maupun tidak langsung menutupi kulit. Dari pengertian tersebut, penulis dapat
mengambil kesimpulan bahwa busana sudah tidak lagi umum menggunakan bahan
seadanya dari alam namun sudah beralih menggunakan tekstil setelah ditemukannya
teknik menenun. Busana juga tidak hanya sekedar kain namun juga aksesoris
tambahan lain pada tubuh yang bisa jadi terbuat dari bahan lain selain kain
yang memiliki fungsi tidak hanya sebagai penutup bagian tubuh tapi juga sebagai
penambah keindahan dan estetika pemakai.

                      Fungsi busana pun kian
menjadi lebih kompleks dan mendasar dalam kehidupan sehari-hari setelah
ditemukannya teknik menenun tekstil sejak 27.000 tahun yang lalu. Selain
sebagai penutup bagian tubuh dan penambah keindahan dan estetika pemakai
seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya, busana juga merupakan ekspresi,
jati diri, dan menunjukkan posisi baik dalam segi sosial maupun segi profesi si
pemakai.

 

2.2.2
Jenis-Jenis Busana

          Berdasarkan pengertian busana menurut
bahasa, penulis menggolongkan busana menjadi 5 jenis, yaitu atasan, bawahan,
alas kaki, luaran, dan aksesoris.

          Atasan, atau umumnya disebut baju, adalah
pakaian yang digunakan pada tubuh bagian atas dari leher sampai pinggang atau
pinggul. Contohnya yaitu kaos, dan kemeja.

          Sedangkan bawahan adalah pakaian yang
digunakan pada tubuh bagian bawah dari pinggang atau pinggul sampai menutupi
sebagian atau seluruh kaki. Contohnya yaitu celana, dan rok.

          Alas kaki merupakan segala jenis bahan
yang digunakan untuk menutupi dan melindungi kaki baik saat di dalam ruangan
maupun di luar ruangan. Contoh alas kaki adalah kaos kaki, sandal, dan sepatu.

          Luaran merupakan tambahan pakaian yang
dikenakan pada atasan. Biasanya berguna untuk melindungi tubuh dari suhu dan
cuaca ekstrem, kotoran dan debu yang dikhawatirkan menodai atasan, atau sebagai
penambah estetika pemakai. Contohnya adalah jaket, rompi, dan sebagian kemeja
yang dapat digunakan sebagai luaran pada kaos.

          Dalam dunia busana, aksesoris adalah
benda-benda yang dikenakan seseorang untuk mendukung atau menjadi pengganti
pakaian. Bentuk aksesori bermacam-macam dan banyak diantaranya terkait dengan
peran gender pemakainya. Contohnya bermacam-macam, seperti perhiasan,
selendang, sabuk, suspender, dasi, syal, sarung tangan, tas, topi, arloji,
kacamata, dan pin.

          Berikut adalah 10 merek busana
terpopuler di Indonesia menurut hasil pemantauan boomee.co menggunakan media sosial Twitter yang dilakukan pada 5-7
September 2015. 10 merek busana ini menawarkan berbagai jenis busana untuk
perempuan maupun laki-laki:

   

 

2.3     Kepercayaan Diri

2.3.1 Definisi Percaya Diri

                      Percaya diri adalah
meyakinkan pada kemampuan dan penilaian diri sendiri dalam melakukan tugas dan
memilih pendekatan yang efektif. Hal ini termasuk kepercayaan atas kemampuannya
menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas keputusan atau
pendapatnya. Sedangkan kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu
yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap
diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Rasa
percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek
dari kehidupan individu dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu, dan
percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual,
prestasi, serta harapan yang realistis terhadap diri sendiri.

 

2.3.2 Faktor Pendorong Percaya Diri

          Rasa percaya diri seseorang dapat
dipacu oleh berbagai faktor sebagai berikut :

1.     
Memiliki kelebihan tertentu yang berarti
bagi diri sendiri dan orang   lain

2.     
Memiliki cita-cita dan keinginan

3.     
Bertekad kuat dan pantang menyerah

4.     
Berada di lingkungan keluarga yang
konservatif sejak dini

5.     
Tidak canggung menjalin komunikasi
dengan orang lain

6.     
Memiliki sifat tanggung jawab dan sadar
akan sifat tersebut

 

2.3.3 Faktor Penghambat Percaya
Diri

          Ketika dikaitkan dengan praktik hidup
sehari-hari, orang yang memiliki kepercayaan diri rendah atau telah kehilangan
kepercayaan diri, cenderung dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut :

1.     
Tidak memiliki keinginan atau target
yang diperjuangkan secara sungguh-sungguh

2.     
Mudah frustasi atau menyerah saat
menghadapi kesulitan

3.     
Kurang termotivasi untuk maju, senang
bermalas-malasan

4.     
Tidak optimal dalam menyempurnakan tugas
atau tanggung jawab

5.     
Canggung dalam menghadapi orang

6.     
Tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan
berbicara dan mendengar yang meyakinkan

7.     
Sering memiliki harapan yang tidak
realistis

8.     
Terlalu perfeksionis

9.     
Terlalu sensitif

 

2.3.4 Dampak Percaya Diri terhadap
Lingkungan Sekitar

                      Rasa percaya diri seorang
individu tentu secara tidak langsung membawa dampak bagi lingkungan sosial
disekitarnya. Dampak yang timbul adalah sebagai berikut :

1.     
Memungkinkan seseorang terinspirasi pada
diri kita

2.     
Mampu menyelesaikan pekerjaan tepat
waktu dan lebih efisien

3.     
Terorganisasi dan berpegang pada jadwal,
membuat lebih mudah mendapat kepercayaan dari orang lain

4.     
Dapat menghindari masalah kesehatan
akibat terlalu banyak pikiran sehingga tidak menyulitkan orang lain atau
keluarga

5.     
Sikap optimis yang dibawa membuat waktu
yang dihabiskan bersama orang lain lebih berharga dan bermanfaat

6.     
Memungkinkan adanya suatu hubungan yang
harmonis dan seimbang dalam kelompok sosial

 

2.4     Definisi Remaja

            Remaja
adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa di mana pada masa
remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut
anak-anak. Pada tahap perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas
sangat menonjol seperti pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis, serta
semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

            Rentang
waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun sebagai
masa remaja awal, 15 – 18 tahun sebagai masa remaja pertengahan, dan 18 – 21
tahun sebagai masa remaja akhir

            Tetapi
Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu
masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja
pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun.

2.4.1 Tugas-Tugas Perkembangan
Remaja

Tugas-tugas
perkembangan memiliki peranan penting untuk menentukan arah perkembangan yang
normal. Remaja diharapkan untuk dapat mencapai kemandirian emosional dari orang
tua dan orang-orang dewasa lainnya. Pada masa awal, remaja masih belum mampu
untuk mengatasi masalahnya sendiri, namun pada usia enam belasan remaja sudah
mulai menunjukkan kemandirian, khususnya secara emosional.

Remaja
diharapkan dapat mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab sesuai dengan
sistem nilai yang dianut oleh masyarakat, serta mampu untuk mengendalikan
perilakunya sendiri. Piaget menekankan bahwa usia remaja harus sudah mampu
mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan
mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu proposisi. 

Berdasarkan
tugas-tugas perkembangan remaja diatas, dapat disimpulkan pada masa remaja
tengah, yaitu pada usia 15-18 tahun, orientasi tugas perkembangan lebih
memfokuskan pada kemampuan individu untuk mencapai kemandirian secara emosional
serta untuk lebih bertanggung jawab dengan perilakunya dalam bersosialisasi
dengan orang lain dan lingkungannya

 

2.4.2 Hubungan Remaja dengan
Lingkungan Sosial

                 Hubungan sosial merupakan
hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari
tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin
dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian, tingkat
hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Pada jenjang
perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi
memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa
pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar
manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.

                 Remaja memiliki karakteristik
yang menonjol yaitu ingin mendapat pengakuan dan penerimaan oleh lingkungan
sosialnya. Hal ini membuat mereka tertekan agar menjadi sama dengan
lingkungannya sehingga mereka akan berusaha menarik perhatian teman sebayanya
dengan bentuk sosialisasi maupun rekreasi. Namun dalam beberapa kasus,
pengakuan sosial ini justru akan menimbulkan kecemasan karena merasa harus
tetap mengikuti perkembangan dan tidak ingin dibilang ketinggalan tanpa
memperdulikan apakah pengakuan tersebut dibutuhkan atau tidak.

                  Dalam
lingkungan sosialnya, remaja umumnya suka mencoba hal-hal baru atau melakukan
hal yang menurut mereka menarik yang belum pernah dilakukan sebelumnya sebagai
pengalaman. Hal ini didasari atas rasa keingin tahuan yang sedang mencapai
batas puncaknya akan sesuatu yang mereka lihat atau ketahui.

                 Memasuki masa remaja, seorang
individu juga mulai memperhatikan penampilannya. Mereka jadi lebih selektif
soal pakaian atau mulai merias mukanya. Hal-hal tersebut adalah cara mereka
untuk menunjukkan jati dirinya diiringi dengan memenuhi kebutuhan psikisnya
untuk mengikuti apa yang sedang menjadi tren di lingkungan sosialnya.

 

2.5     Definisi Mubazir

     Menurut
hasil saduran penulis dari beberapa sumber yang valid, mubazir adalah perbuatan
yang berlebihan sehingga menimbulkan kesia-siaan yang tidak perlu, bisa mengacu
kepada harta, barang, atau pelaku pemborosan itu sendiri.

     Mubazir yang paling sering ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari adalah menyia-nyiakan makanan. Walau porsi makanannya
diambil sendiri, kerap kali orang menyudahinya begitu saja dengan alasan
sepele, yaitu kenyang, tanpa menyadari bahwa ada banyak orang lain yang
kelaparan namun tidak punya cukup uang untuk makan. Mubazir itu sendiri tidak
hanya terjadi pada hal yang berbentuk fisik, tetapi juga non-fisik seperti
pengulangan kata yang tidak perlu yang menyebabkan kalimat tersebut menjadi
kalimat yang tidak efektif.

     Mubazir pada konsumsi remaja akan merek
busana juga sepatutnya menjadi hal yang diperhatikan. Menurut penjelasan dari
teori dan pengertian di halaman sebelumnya, masa remaja adalah masa dimana
seorang individu sedang mencari jati diri dan membutuhkan pengakuan atas siapa
dirinya. Hal tersebut tercermin pada busana yang ia kenakan. Ketika busana
tersebut tidak lagi dipakai, sering kali busana tersebut menjadi mubazir dan
dibiarkan menjadi rongsokkan barang bekas yang tidak bernilai dan tidak layak
pakai. Tuhan mengajari umatnya untuk saling berbagi dan memberi, yang mana
bertolak belakang dengan kenyataan yang ada dalam konsumsi busana remaja jika
berpacu pada merek-merek tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1     Kesimpulan

              Berbusana adalah cara setiap
individu mengekspresikan dirinya masing-masing. Busana mewakili selera, sudut
pandang, dan pola pikir yang berbeda-beda sesuai dengan karakter si pemakai.
Didukung dengan era modern yang sudah memberi banyak kesempatan bagi desainer
busana untuk menjual hasil rancangan busananya kapan saja dan dimana saja,
selebihnya adalah urusan pribadi bagi pembeli untuk memilih mana busana yang
sesuai keinginan dan kebutuhan.

              Pemilihan busana yang tepat dari
berbagai merek-merek busana yang ada menghasilkan kepuasan tersendiri bagi
pemakai busana tersebut. Kepuasan tersebut dapat terlihat dari kepercayaan diri
seseorang ketika mengenakan busana. Rasa percaya diri seseorang dapat membawa
dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sosial di sekitarnya.

              Terlebih bagi kalangan remaja yang
sedang memenuhi tugas-tugas perkembangan usianya di lingkungan sosialnya,
berbusana dan tampil modis sebagai cara untuk memiliki tempat di kalangan teman
sebaya. Penampilan yang didukung dengan rasa percaya diri, membuat seseorang
lebih mudah untuk mencapai kesuksesan dalam lingkungan sosialnya dibandingkan
berbusana yang tidak sesuai selera atau bentuk tubuh tanpa rasa percaya diri
sama sekali.

3.2     Saran

              Mudahnya
akses internet ataupun sumber-sumber lain untuk memperoleh informasi tentang
cara berbusana ataupun tentang busana itu sendiri hendaknya digunakan secara
optimal. Banyaknya pusat perbelanjaan dengan banyak merek yang menawarkan
berbagai macam busana juga sekiranya dimanfaatkan dengan baik agar tidak
menjadi korban mode yang justru malah menurunkan rasa percaya diri.

              Rasa percaya diri sebaiknya juga
tidak hanya didasari pada merek busana yang dikenakan tapi juga postur tubuh,
kebersihan, kenyamanan, dan penampilan secara keseluruhan. Kenali bentuk tubuh
dan buatlah prioritas penggunaan busana sesuai selera dan kebutuhan agar dapat
menghemat pengeluaran serta mengoptimalkan tempat penyimpanan busana
masing-masing.

              Dengan akses internet pula,
idealnya digunakan sebagai sarana komunikasi untuk menjual-beli busana bekas
layak pakai agar busana-busana tersebut tidak mubazir dan senantiasa terhindar
dari dosa.

 

 

x

Hi!
I'm Johnny!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out