BAB nasional, dan global perlu dilakukannya pemberdayaan dan

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Pembahasan makalah ini perihal Undang-
Undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang – Undang tersebut merupakan
sesuatu yang amat sangat penting dipelajari bagi guru dan dosen maupun
pihak-pihak terkait supaya dapat mengerti juga memahami bagaimana
peraturan-peraturan yang harus dipatuhi. Dengan mengerti dan memahami yang baik
Undang- Undang Guru dan Dosen , maka guru dan dosen mampu mengatasi pelbagai
permasalahan- permasalahan pendidikan. Namun jikalau guru dan dosen tidak dibekali
pengetahuan tentang peraturan-peraturan maka dapat berakibat bagi anak didik , yang
mana tidak dapat bersosialisasi dengan cara yang baik terhadap orang yang ada
disekitarnya dan  berakibat buruk yaitu tidak
peduli pada kehidupan di sekitarnya.

Di
Negara Kesatuan Republik Indonesia upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan
meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak
mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan
masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 masuk pada hal pembangunan
nasional yaitu bidang pendidikan.

Dalam
hal  penjaminan pemerataan serta perluasan
akses, peningkatan mutu juga relevansi, dan tata pemerintahan yang baik juga
akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan
perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukannya pemberdayaan
dan peningkatan mutu pada guru dan dosen secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan, sehingga guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan
kedudukan yang sangat strategis dalam memajukan pendidikan.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Guru dan Dosen

Guru
sebagai aktor utama memiliki peran yang sangat penting  dalam penerapan program pendidikan di sekolah yaitu
tercapainya tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan. Di dalam proses kegiatan
belajar mengajar, seorang guru juga memiliki tugas untuk memberi bimbingan, dorongan,
serta fasilitas belajar bagi murid-murid yang diajarinya. Guru mempunyai
tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk
membantu proses perkembangan anak.1 Guru
adalah Pendidik , yaitu orang yang mengajar dan membantu siswa dalam memecahkan
masalah pendidikannya. Jika ditinjau dalam kajian Islam, menurut Imam
al-Ghazali guru/pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan,
menyempurnakan, segala potensi yang ada pada peserta didik. Serta membersihkan
hati peserta didik agar bisa dekat dan berhubungan dengan Allah SWT.2

Dalam
kemajuan dan tuntutan zaman juga seiring berjalannya waktu,  seorang guru harus  menjadi pendidik professional. Keberadaan guru
menjadi suatu pertimbangan yang amat dipertimbangkan, guru hendaklah seseorang
yang mempunyai kecakapan yang memadai, agar tidak terjadi malpraktek dalam proses
pendidikan.

Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
 melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik dimulai pendidikan bagi anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan juga pendidikan menengah.

Sedangkan
dosen  adalah pendidik profesional dan
ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.3

Guru
dan Dosen profesional juga bermartabat adalah hal yang di idamkan serta impikan
kita semua, karena akan memberikan efek positif yaitu melahirkan generasi
bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan juga berakhlak mulia.
Guru dan Dosen profesional juga bermartabat akan menjadi teladan dalam
terbentuknya kualitas sumber daya manusia yang kuat. Sertifikasi guru diberikan
guna terwujudnya impian yang diharapkan Pemerintah Republik Indonesia. Yang
mana dalam mewujudkan impian pemerintah ini bukanlah hal yang mudah tidak
seperti membalik talapak tangan. Karena itu, diperlukan kerja keras juga
sinergi dari semua pihak yakni, pemerintah pusat, pemerintah daerah,
masyarakat, dan tenaga pendidik.

 

B.     Undang-undang yang mengatur tentang Guru
dan Dosen

Undang
– undang Guru dan Dosen terdiri dari :

1.      Guru

a)      Kualifikasi, Kompetensi dan Sertifikasi
(Pasal 8-13)

b)      Hak dan Kewajiban (Pasal 14-20)

c)      Wajib Kerja dan Ikatan Dinas (Pasal
21-23)

d)      Pengangkatan,
Penempatan, Pemindahan dan Pemberhentian (Pasal 24-31)

e)      Pembinaan dan Pengembangan (Pasal 32-35)

f)       Penghargaan (Pasal 36-38)

g)      Perlindungan (Pasal 39)

h)      Cuti (Pasal 40)

i)        Organisasi Profesi dan Kode Etik (Pasal
41-44)

2.      Dosen

a)      Kualifikasi, Kompetensi dan Sertifikasi
dan Jabatan Akademik (Pasal 45-50)

b)      Hak dan Kewajiban Dosen(Pasal 51-60)

c)      Wajib Kerja dan Ikatan Dinas (Pasal
61-62)

d)      Pengangkatan,
Penempatan, Pemindahan dan Pemberhentian (Pasal 63-69)

e)      Pembinaan dan Pengembangan (Pasal 69-72)

f)       Penghargaan (Pasal 73-74)

g)      Perlindungan (Pasal 75)

h)      Cuti (Pasal 76)

 

C.    Tujuan pembuatan Undang-Undang Guru dan
Dosen

Adapun
tujuan dibuatnya Undang-Undang Guru dan Dosen, antara lain :

1.      Mengangkat harkat, citra dan martabat
guru.

2.      Meningkatkan tanggung jawab profesi guru
sebagai pengajar, pendidik,                       pelatih, pembimbing dan
manajer pembelajaran.

3.      Memberdayakan dan mendayagunakan profesi
guru.

4.      Memberikan jaminan kesejahteraan dan
perlindungan terhadap profesi guru.

5.      Meningkatkan mutu pelayanan dan hasil
pendidikan.

6.      Mendorong peran serta masyarakat dan
kepedulian terhadap guru.

D.    Kelebihan dan Kekurangan Undang-undang Guru
dan Dosen

1.      Kelebihan Undang-Undang Guru dan Dosen

a.       Kesejahteraan guru dan dosen terjamin.

b.      Guru dan dosen mendapatkan penghargaan
yang layak untuk pengabdiannya terhadap bangsa dan Negara Indonesia.

c.       Meningkatnya kualitas tenaga pendidik guru dan
dosen karena harus memenuhi standar yang telah ditetapkan.

d.      Guru dan dosen bisa lebih professional
dengan tanggung jawab yang besar.

2.      Kelemahan Undang-Undang Guru dan Dosen

a.       Sertifikasi atau tunjangan untuk Guru
dan Dosen belum merata, khususnya bagi Guru yang hampir memasuki usia pensiun.
Mereka belum mengerti benar akan sistematika program sertifikasi dari
pemerintah ini. Serta Guru tersebut harus mengikuti ujian-ujian yang dirasa
sulit untuk usia tersebut dan ujian itu menggunakan alat-alat IT seperti
komputer dan Internet yang belum tentu mereka kuasai.

b.      UUGD cenderung menguntungkan guru dan
dosen PNS, sementara itu di Indonesia guru dan dosen non PNS jumlahnya sangat
banyak serta mengemban tugas dan tanggung jawab yang sama dengan guru dan dosen
PNS.

c.       Jumlah peminat profesi guru dan dosen
meningkat demi mengejar status sertifikasi.

d.      Sebagian guru dan dosen yang telah
diberikan amanat penting oleh pemerintah justru     menyepelakan. Contohnya, ketika diadakan
sidak banyak guru dan dosen yang tidak tertib, pada jam kerja banyak pula PNS
khususnya guru dan dosen yang jalan-jalan di pusat perbelanjaan atau tempat
rekreasi lainnya.

                                          

E.     Kedudukan Guru dan Dosen Sebagai Tenaga
Profesional

Kedudukan
dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam  Pasal 2 ayat (1) dalam (UU RI No. 14 tahun
2005) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran dosen sebagai agen
pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi
kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.4

Berdasarkan
Pasal 7 ayat (1) dalam (UU RI No. 14 tahun 2005), profesi guru dan profesi
dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip
sebagai berikut:5

1.      memiliki bakat, minat, panggilan jiwa,
dan idealisme;

2.      memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu
pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;

3.      memiliki kualifikasi akademik dan latar
belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;

4.      memiliki kompetensi yang diperlukan
sesuai dengan bidang tugas;

5.      memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan
tugas keprofesionalan;

6.      memperoleh penghasilan yang ditentukan
sesuai dengan prestasi kerja;

7.      memiliki kesempatan untuk mengembangkan
keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;

8.      memiliki jaminan perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan; dan

9.      memiliki organisasi profesi yang
mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas
keprofesionalan guru.

F.     Menjadi Guru Profesional

Kata
profesi secara harfiah berasal dari kata 
profesion (Inggris) yang berasal dari bahasa latin profesus yang berarti
mampu atau ahli dalam suatu pekerjaan. Profesionalisme guru adalah suatu
tingkat penampilan seseorang dalam melaksanakan pekerjaan sebagai guru yang
didukung dengan keterampilan dan kode etik.6

Dalam
pengamalannya di sekolah seorang pendidik professional dalam hal ini guru berperan
menjadi uswatun hasanah, jabatan administratif, dan juga sebagai petugas
kemasyarakatan.

Peran
penting yang harus dipunyai oleh guru professional antara lain, sebagai
designer (perancang pembelajaran), edukator (pengembangan kepribadian), manager
(pengelola pembelajaran), administrator (pelaksanaan teknis administrasi),
supervisor (pemantau), inovator (melakukan kegiatan kreatif), motivator
(memberikan dorongan), konselor (membantu memecahkan masalah), fasilitator
(memberikan bantuan teknis dan petunjuk), dan evaluator (menilai pekerjaan
siswa).7

Segala
tingkah laku ataupun sikap dan juga perbuatan guru baik di sekolah maupun di
lingkungan masyarakat sangatlah berpengaruh bagi kualitas dan mutu pendidikan. Dalam
pelbagai hal meningkatkan pelayanan, meningkatkan pengetahuan, memberi arahan,
bimbingan dan motivasi kepada peserta didik, cara berpakaian, berbicara, dan
berhubungan baik dengan peserta didik, teman sejawat, serta anggota masyarakat
lainnya.8

Seiring
dengan meningkatnya karakter pada guru profesional yang dimiliki oleh setiap
guru, maka akan semakin baik pula mutu serta kualitas pendidikan yang
dijalankan. Adapun  karakteristik yang
harus melekat pada guru professional, diantaranya  yaitu:9

a)      Taat pada peraturan perundang-undangan

b)      Memelihara dan meningkatkan organisasi
profesi

c)      Membimbing peserta didik

d)      Cinta terhadap pekerjaan

e)      Memiliki otonomi/ mandiri dan rasa
tanggung jawab

f)       Menciptakan suasana yang baik di tempat
kerja (sekolah)

g)      Memelihara hubungan dengan teman sejawat
(memiliki rasa kesejawatan/ kesetiakawanan)

h)      Taat dan loyal kepada pemimpin

 

G.    Kompetensi Guru Profesional

Asal
kata kompetensi berasal dari bahasa Inggris yaitu competency yang berarti
kecakapan, kemampuan, dan wewenang. Sedangkan pengertian dari kompetensi guru
profesional yaitu orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam
bidang keguruan, sehingga ia mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai
guru dengan kemampuan maksimal.10

Seorang
guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dituntut memiliki kompetensi
tersendiri supaya tercipta pendidikan yang berkualitas, efektif, dan efisien,
serta mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dalam pelaksanaannya , untuk
memiliki kompetensi tersebut seorang guru sangatlah perlu membina diri dengan
cara sebaik mungkin, karena fungsi guru yang utama adalah membina dan
mengembangkan kemampuan peserta didik secara profesional dalam proses belajar
mengajar.11

Agar
 tercapai tujuan tersebut, maka seorang
guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi, di antaranya yaitu:

1)      Kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan dalam
mengelola pembelajaran peserta didik meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran, serta pengevaluasian hasil belajar.

2)      Kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan
personal yang mencerminkan kepribadian yang bermental sehat dan stabil, dewasa,
arif, berwibawa, kreatif, sopan santun, disiplin, jujur, rapi.12

3)      Kompetensi profesional, yaitu kemampuan
penguasaan terhadap materi pembelajaran secara lebih mendalam serta memiliki
berbagai keahlian di bidang pendidikan. Meliputi: penguasaan materi, memahami
kurikulum dan perkembangannya, pengelolaan kelas, penggunaan strategi, media,
dan sumber belajar, memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan, memberikan
bantuan dan bimbingan kepada peserta didik, dan lain-lain.

4)      Kompetensi sosial, yaitu kemampuan guru dalam
berkomunikasi juga berinteraksi baik dengan peserta didik, orang tua peserta
didik dan masyarakat, sesama pendidik/ teman sejawat dan dapat bekerja sama
dengan dewan pendidikan/ komite sekolah, dan mampu berperan aktif didalam melestarikan
dan pengembangan budaya masyarakat, serta ikut berperan dalam kegiatan sosial.

 

 

 

H.    Konsep Kode Etik Guru

Kode
etik guru di Indonesia merupakan hasil himpunan nilai-nilai dan norma-norma
profesi guru yang tersusun dengan baik, sistematik dalam suatu sistem yang
utuh. Kode etik guru di Indonesia juga berfungsi sebagai landasan moral dan
pedoman tingkah laku setiap guru di dalam menunaikan tugas pengabdiannya
sebagai guru, baik di dalam maupun di luar sekolah serta dalam pergaulan hidup
sehari-hari di masyarakat.

Tujuan kode etik di
antaranya yaitu:

a.        Menjunjung tinggi martabat profesi

b.       Untuk menjaga dan memelihara
kesejahteraan para anggotanya

c.        Sebagai pedoman berperilaku

d.       Untuk meningkatkan pengabdian para
anggota profesi

e.        Untuk meningkatkan mutu profesi

f.        Untuk meningkatkan mutu organisasi
profesi

Kode
etik hanya dapat ditetapkan oleh suatu organisasi profesi yang berlaku dan
mengikat para anggotanya. Kode etik hanya akan mempunyai pengaruh yang kuat
dalam menegakkan disiplin di kalangan profesi tersebut, jika semua orang yang
menjalankan profesi tersebut bergabung dalam profesi yang bersangkutan.

Kode
etik guru Indonesia ditetapkan dalam suatu kongres yang dihadiri oleh seluruh
utusan cabang dan pengurus daerah PGRI dari seluruh penjuru tanah air. Pertama
dalam kongres ke XIII di Jakarta tahun 1973, dan kemudian disempurnakan dalam
kongres PGRI ke XVI tahun 1989 juga di Jakarta.

 

 

Berikut
rumusan Kode Etik Guru Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut :

a)      Guru berbakti membimbing peserta didik
untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila

b)      Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran
professional

c)      Guru berusaha memperoleh informasi tentang
peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan

d)     Guru menciptakan suasana sekolah
sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar

e)      Guru memelihara hubungan baik dengan
orang tua murid dan masyarakat di sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa
tanggungjawab bersama terhadap pendidikan

f)       Guru secara pribadi dan bersama-sama
mengembangkan dan meningkatkan mutu  dan
martabat profesinya

g)      Guru memelihara hubungan seprofesi,
semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan social

h)      Guru secara bersama-sama memelihara dan
meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.

i)        Guru melaksanakan segala kebijakan
pemerintah dalam bidang pendidikan.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.

Dosen  adalah pendidik profesional dan ilmuwan
dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian
kepada masyarakat

Peran
guru profesional yaitu sebagai designer (perancang pembelajaran), edukator
(pengembangan kepribadian), manager (pengelola pembelajaran), administrator
(pelaksanaan teknis administrasi), supervisor (pemantau), inovator (melakukan
kegiatan kreatif), motivator (memberikan dorongan), konselor (membantu
memecahkan masalah), fasilitator (memberikan bantuan teknis dan petunjuk), dan
evaluator (menilai pekerjaan siswa).

Kedudukan dosen
sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam  Pasal 2 ayat (1) dalam (UU RI No. 14 tahun
2005) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran dosen sebagai agen
pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi
kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional

1
Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta,
1991, hal : 98-99

2
Wahyuddin Nur nasution, Teori Belajar dan Pembelajaran, Medan : Perdana
Publishing, 2011, hal : 76

3
Undang-undang  RI  No. 
14  tahun  2005

4
Zinal Aqib, Menjadi Guru Profesional Berstandar Nasional, ( Bandung :Yrama
Widya,2009) hal. 25

5
Ibid,hal.26

6
Yunus Abu Bakar,Syarifan Nurjan, Profesi Keguruan, (Surabaya:AprintA,2009) hal:
1- 10

7
Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan. (Jakarta : Bumi Aksara, 2007) hal: 22

8
Yunus Abu Bakar,Syarifan Nurjan, op.cit hal: 3- 6

9
Yunus Abu Bakar,Syarifan Nurjan, op.cit hal: 3- 7

10
Ibid ….. hal: 4-8

11
Djam’an Satori, dkk, Profesi Keguruan. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2010)
hal: 2.2

12
Samana. Profesionalisme Keguruan. (Yogyakarta: Kanisius, 1994) hal: 7

x

Hi!
I'm Johnny!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out