Kompetensi dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada

Kompetensi berpikir kreatif bagi
peserta didik merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global
sebab tingkat kompleksitas permasalahan dalam segala aspek kehidupan modern
semakin tinggi. Berfikir kreatif tergolong kompetensi tingkat tinggi (high
order competencies) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kompetensi
dasar (biasa disebut dengan basic skills dalam pembelajaran matematika). Hal
tersebut sejalan dengan pernyataan Ervync (1991) bahwa kreatifitas memainkan
peran yang penting dalam siklus berfikir matematis tingkat lanjut. Menurut
Career Center Maine Departmen of Labor USA, 
kemampuan berfikir kreatif memang penting karena kemampuan ini merupakan
salah satu kemampuan yang dikehendaki dunia kerja. Basic skills dalam pembelajaran matematika biasanya dibentuk
melalui aktivitas yang bersifat konvergen. Aktivitas ini umumnya cenderung
berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik, mekanistik, dan
rutin. Namun, kompetensi berpikir kreatif bersifat divergen dan menuntut
aktivitas investigasi masalah matematika dari berbagai perspektif. Melalui
investigasi, siswa dapat mengoptimalkan pengetahuannya untuk menyelesaikan
berbagai permasalahan (Elly’s Mersina Mursidik, 2014).
Tetapi dalam kenyataan, pembelajaran matematika yang dilaksanakan tidak
merangsang siswa untuk lebih kreatif.

Fokus dan perhatian
pada upaya meningkatkan kemampuan berpikir
kreatif dalam matematika jarang atau tidak pernah dikembangkan. Padahal
kemampuan itu yang sangat diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan
memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada
keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Peranan guru bukan
semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi
fasilitas belajar agar proses belajar lebih memadai. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui
kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya,  motivasinya, latar belakang akademisnya, latar
belakang sosial ekonominya,  dan lain
sebagainya. Bahan pelajaran dalam proses membelajaran hanya merupakan
perangsang tindakan pendidik atau guru, juga hanya merupakan tindakan
memberikan dorongan dalam belajar. Dalam  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum menguraikan secara jelas
konsep dan strategi pembelajaran sebagai implementasi Kurikulum 2013. menyebutkan
dalam dokumen kurikulum, kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsip yang
(1) berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreativitas peserta didik,
(3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, (4) bermuatan nilai, etika,
estetika, logika, dan kinestetika, dan (5) menyediakan pengalaman belajar yang
beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang
menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna. Upaya yang dilakukan
dapat dari segi materi, proses pembelajaran, perbaikan dan dukungan sarana
prasarana,  peningkatan kemampuan guru
dalam mengajar melalui penataran atau pelatihan, pengurangan atau pembagian
materi menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana (penyederhanaan muatan materi
dalam kurikulum) atau peningkatan mutu input (siswa) di sekolah.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dalam mengatasi
problematika pelaksanaan pengajaran, tentu
diperlukan model-model mengajar yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru
melaksanakan tugas mengajar dan juga kesulitan belajar siswa. Model dapat
diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan kegiatan. Pendekatan untuk mengatasi masalah
tersebut, peneliti lebih menekankan pada proses pembelajarannya, karena proses
tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab profesional guru sehari-hari dan
akan berdampak pada tugas-tugas di kelas berikutnya. Bila mengacu pada
identifikasi penyebab kelemahan tersebut, maka dalam proses pembelajaran
diperlukan cara yang mendorong siswa untuk memahami masalah, meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyusun rencana penyelesaian dan
melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan sendiri penyelesaian masalah,
serta mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai
fasilitator.

Sejalan dengan hal diatas guru
harus lebih selektif dalam memilih model pembelajaran. Ciri pengajaran yang
berhasil salah satu diantaranya dilihat dari kadar kegiatan pembelajaran siswa.
Dengan demikian, guru seharusnya tidak terlalu ikut campur ketika siswa sedang
mencoba menyelesaikan masalah.  Guru
sebaiknya mendorong siswa untuk membandingkan metode-metode satu sama lain,
mendiskusikan masalah tersebut, dan seterusnya.

Learning
cycle 5E merupakan model
pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik (student centered), berupa rangkaian tahap-tahap kegiatan
(fase)
yang diorganisasi sedemikian rupa, meliputi pembangkitan minat (engagement),
eksplorasi (exploration), penjelasan (explanation), elaborasi (elaboration),
dan evaluasi (evaluation) sehingga peserta didik dapat menguasai
kompetensikompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan
berperan aktif (Suastra, 2009).  Sedang dalam model
CPS terdapat tahap-tahap yang secara operasional menggambarkan proses berpikir kreatif. Pada tahap pertama dan kedua
merupakan langkah dalam sintesis ide, tahap ketiga dan
keempat merupakan langkah dalam pembangkitan ide, sedang tahap kelima dan
keenam merupakan langkah penerapan ide dalam mengajukan masalah. Dua model
tersebut dipilih untuk digunakan karena lebih operasional dan sesuai dengan proses berpikir dalam mengajukan
masalah. 

Dalam rangka pengembangan
pembelajaran, salah satu tugas pendidik adalah memilih model pembelajaran yang
digunakan untuk membantu siswa mencapai kompetensi yang diinginkan. Model
pembelajaran yang tepat dapat membuat kegiatan pembelajaran menjadi
efektif.  Namun tidaklah mudah untuk
mendapatkan suatu  model pembelajaran
yang paling baik untuk mencapai semua tujuan 
pembelajaran dan untuk semua siswa. Model pembelajaran yang berhasil
dipergunakan untuk kelompok siswa belum tentu cocok digunakan untuk sekelompok
siswa lainnya. Oleh karna itu, peneliti memilih dua model pembelajaran yang
akan digunakan yaitu model pembelajaran Creative problem solving dan model pembelajaran Learning Cycle untuk dibandingkan dan
melihat model mana yang akan memberi peningkatan yang baik terhadap kemampuan berpikir
kreatif siswa.

Selanjutnya, observasi yang
dilakukan oleh peneliti di SMP N 1 Samigaluh juga menunjukkan bahwa rendahnya
kemampuan berpikir kreatif siswa juga dialami oleh siswa kelas VIII di SMP N 1
Samigaluh. Hal-hal yang mengidentifikasi masih rendahnya kemampuan berpikir
kreatif siswa dalam pembelajaran matematika adalah: (1) dilihat dari solusi
jawaban siswa yang sama dari ulangan harian matematika menunjukkan siswa tidak
mencari solusi yang berbeda (2) apabila siswa diberikan soal yang sedikit
berbeda dari contoh soal siswa akan kebingungan menjawab permasalahan tersebut
padahal inti dari masalah sama (3)  Siswa
belum mampu memberikan ide atau gagasan yang berbeda dari apa yang diberikan
guru, jadi siswa hanya mengikuti cara yang diberikan oleh guru dan belum mampu
mengembangkan persoalan yang ada dipikirannya (4) Selama ini dalam mengajarkan
pemecahan masalah (soal cerita) mereka tidak melatihkan secara khusus bagaimana
memahami informasi masalah. Guru mengajarkan dengan memberi contoh soal dan
menyelesaikannya secara langsung, serta tidak memberi kesempatan siswa
menunjukkan ide atau representasinya sendiri.

x

Hi!
I'm Johnny!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out