Latar atau pesan bahasa sumber dengan padanan yang

Latar Belakang MasalahMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penerjemahan adalah proses, perbuatan, cara menerjemahkan pengalih bahasa. Suhendra Yusuf menyatakan terjemah diartikan sebagai semua kegiatan manusia dalam mengalihkan seperangkat informasi atau pesan. Lalu Moelione berpandangan bahwa pada hakikatnya penerjemahan itu merupaan kegiatan mereproduksi amanat atau pesan bahasa sumber dengan padanan yang paling tepat dan wajar di dalam bahasa penerima, baik dilihat dari segi arti maupun gaya.  Menerjemahkan teks sastra mempunyai keunikan tersendiri dibanding dengan penerjemahan teks-teks umum lainnya, sebab sastra mengandung unsur ekspresi seorang sastrawan dan kesan khusus yang ingin ditimbulkan terhadap si pembaca. Selain itu karya sastra juga mempunyai unsur-unsur emosional, efek keindahan kata dan ungkapan, efek keindahan bunyi dengan segala yang mengiringinya, inilah yang disebut dan biasa dikenal dengan nilai estetis sebuah karya sastra. Dalam penerjemahan sastra khususnya prosa fiksi menurut Newmark dalam Suryawinata dan Hariyanto harus memperhatikan pengaruh budaya pada Bsu dan pesan moral serta bahasa, latar dan tema.       Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbiter, digunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa adalah alat komunikasi sebagai perantara atau penyambung suatu pesan baik itu lisan maupun tulisan. Dalam berkomunikasi di dunia internasional tentu kita bertemu dengan beda bahasa lain. Misalnya ketika berinteraksi dengan orang arab tentu kita menggunakan bahasa arab agar maksud dan tujuan kita tersampaikan.  Ada banyak ragam bahasa di dunia ini, baik berupa tulisan, lisan dan isyarat. Penulis lebih mengedepankan aspek bahasa yang berbentuk tulisan/teks.Dalam menerjemahkan sebuah karya, khususnya karya ini yang ditujukan untuk anak. Peneliti menggunakan metode penerjemahan adaptasi dalam menerjemahkan komik Nawadhir Juha li Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi hasan. Yang membahas cerita juha yang digolongkan ke dalam cerita anekdot (humor) karena yang menjadi bahan dari cerita humor adalah watak-watak atau tokoh yangcerdik atau bodoh. Juha merupakan cerita yang paling terkenal di sekitar Timur Tengah dan Afrika Utara. Juha telah menjadi sumber banyak karya yang merupakan refleksi dari kualitas, tokoh yang kompleks, dan pandai mengolah kata. Kekuatan ini mewujudkan Juha memiliki karakter ganda pada dirinya. Banyak karakter digambarkan berlawanan pada gaya penceritaannya. Ia bisa menjadi seorang hakim, pedagang, petani, suami dan lain sebagainya. Secara umum, ia kadang muncul sebagai seorang yang kaya atau seorang yang miskin, seorang yang dermawan atau seorang yang kikir, seorang yang pintar atau seorang yang bodoh, seorang perjaka atau seorang yang telah menikah. Semuanya menjelaskan kehidupan dari berbagai segi dan aspek yang berlawanan, yang menggambarkan manusia dari berbagai kategori, status dan karakter individu. Banyak dari kisah-kisahnya yang konyol terpancar pula kritik sosial. la juga cukup arif untuk memberikan wejangan, nasihat, protes, kata-kata bijak, mengejek kebodohan,ketidak becusan/ketidakadilan, dan bahkan bisa menghibur hati yang sedang lara.B. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang, penulis membatasi rumusan masalah pada:Bagaimana penerapan metode adaptasi dalam menerjemahkan komik Nawadhir Juha li Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi hasan?C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan Rumusan masalah di atas peneliti akan memaparkan tujuan masalah sebagai berikut:Mengetahui bagaimana proses menerjemahkan komik Nawadhir Juha li Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi hasan dengan menggunakan metode adaptasi sehingga memudahkan pemahaman pembaca.Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti, pembaca dan para penerjemah dalam menerjemahkan sebuah teks-teks ArabD. Tinjauan PustakaPenerjemahan yang saat ini penulis lakukan, belum pernah ada yang menerjemahkan judul atau bahas komik Nawadhir Juha li Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi hasan yang berjudul ?? ??? ???????. Terkait tinjauan pustaka ini penulis melakukan survei di perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan perpustakaan umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Jakarta. Dari hasil survei tersebut penulis menemukan beberapa pembahasan mengenai metode penerjemahan antara lain:Pertama, Virginia (2012) yang berjudul “Ali Audah dan Metode Penerjemahannya (analisis Terjejemahan Buku Abu Bakr As-Siddiq Karya M. Husain Haekal pada Bab Abu Bakr Pada Masa Nabi)”. Pada penelitian ini mengarah pada pengetahuan terkait metode, ragam dan perangkat penerjemahan apa yang diterapkan oleh ali Audah dalam buku Abu Bakr As-Shidiq karya M. Husain Haekal pada bab Abu Bakr pada masa nabi. Penelitian ini tidak jauh beda dengan penelitian yang penulis temukan sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan terhadap hasil terjemahan dan menentukan metode apa yang digunakan oleh penerjemah dalam proses penerjemahnnya.Kedua,  Lia Widvawati (2014) yang berjudul “Analisis Deskriptif Kecerdasan Emosional pada Kisa-kisah Al-Qur’an dan Upaya Pengembangan pada Anak Usia 6 sampai 9 Tahun” yang memfokuskan pada analisis kisah-kisah anak dalam al-Qur’an. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, melalui pendekatan deskriptif dalam menemukan jawaban terkait permasalahan yang ada di skripsi ini. Kelepbihan dari skripsi ini adalah peneliti memfokuskan pada 3 cerita dalam al-Qur’an yang kemudian peneliti analisis, sehingga diambil kesimpulan bahwa ketiga kisah tersebut terdapat berbagai macam hikmah yang dapat diambil untuk diteladani dalam perkembangan pribadi seorang anak. Kekurangan penelitian ini adalah peneliti tidak menerjemahkan langsung dari bahasa sumber yaitu bahasa Arab.Ketiga, Anis Fida’ (2016) yang berjudul “Qissah li al-Atfal ‘Taih fi al-Qannat’ li Ya’qub al-Syaruni Tarjamatuha wa Musykilatu Tarjamati al-Tarakib al-Idlafi” yang memfokuskan pada penerjemah susunan Idhafi yang ditemukan dalam cerita yang ia terjemahkan. Metode penerjemahan yang ia gunakan yaitu metode terjemah secara harfiyah dan tafsiriyah. Metode harfiyah merupakan metode yang melingkupi terjemahan secara setia terhadap teks sumber adapun metode tafsiriyah merujuk pada terjemahan-terjemahan yang tidak memperdulikan aturan tata bahasa dari bahasa sumber. Kelebihan skripsi ini adalah peneliti menfokuskan susunan idhafi sebagai kajian penelitiannya dan peneliti menguunakan metode harfiyah dan harfiyah dan tafsiriyah sebagai metode terjemahannya. Kekurangan skripsi ini adalah peneliti tidak memaparkan metode yang peneliti gunakan, karena peneliti hanya memfokuskan kalimat idhafinya saja.Keempat, skripsi dari mahasiswa UIN Syarif hidayatullah Jakarta, Nauval Fitriah “Penerjemahan Kitab Dau’u Al-Misbah Fi Bayani Ahkami Al-Nikah Karya K.H. Hasyim Asy’ari” (2017). Kelebihan dari penelitian tersebut adalah ia mendeskripsikan penereapan metode dan strategi penerjemahan yang diklasifikasi ke dalam dua bagian. Pertama, mendeskripsikan dengan rinci metode semantis pada terjemahannya. Kedua, mendeskripsikan secara gamblang dan jelas strategi apa saja yang  diterapkan dalam terjemahannya. Kekurangan dari penelitian ini adalah Nauval melakukan dua penerapan metode dan strategi yang berbeda mengakibatkan meluasnya fokus pembahasan dalam penelitian yang dilakukannya. Persamaan dari penelitian Nauval dengan yang akan peneliti lakukan adalah dari objek kajiannya, yaitu sama-sama menerjemahkan kitab klasik namun dalam korpus yang berbeda. Sedangkan perbedaannya terletak pada penerapan metode yang digunakan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode komunikatif yang berorientasi pada teks sasaran. Keelima, Qisthina Amajida (2017) yang berjudul ” Peneremahan Buku al-Qirâ’ah al-Rasyîdah Karya Abul Hasan Ali Nadwi: Sebuah Pertanggungawaban Akademik ” yang memfokuskan metode komunikatif sebagai metode penerjemahan bukunya. Hasil terjemahan tersebut menunjukkan bahwa metode komunikatif yang diterapkan dalam penelitiannya yaitu cocok. Kelebihan dari  penelitian ini adalah peneliti memaparkan kendala daalam menerjemahkan buku dengan metode komunikatif. Kekurangan penelitian ini adalah peneliti belom membandingkan terjemahan dengan metode lain untuk dijadikan perbedaan dalam memahami sebuah teks.E. kerangka Teori1. Definisi komik Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komik adalah cerita bergambar (di majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yg umumnya mudah dicerna dan lucu. Komik adalah cerita yang bertekanan pada gerak dan tindakan yang ditampilkan lewat urutan gambar yang dibuat secara khas dengan paduan kata- kata. Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Gambar dalam hal ini, menggambar sebuah karakter kartun (karakter bisa merupakan seseorang, binatang, tumbuhan ataupun suatu objek benda mati). Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri. Atau ada juga yang berpendapat, Komik adalah Dunia Tutur Kata, suatu rangkaian gambar yang bertutur menceritakan suatu kisah. Dalam membaca gambar ini nilai-nya kira-kira sama dengan membaca peta, simbol-simbol, diagram, dan sebagainya. Di dalam komik terdapat kumpulan panel-panel yang berisi gambar. Gambar dalam panel-panel tersebut disertai dengan balon kata-kata yang menyatakan ucapan tokoh, dialog atau atau memperjelas isi cerita.Teknik Penerjemahan KomikPenerjemahan tidak sekedar mengalihkan pesan ke dalam Bsa. Namun, juga diperlukan teknik menerjemahkan agar hasil terjemahannya komunikatif dengan pembaca. Dalam hal kaitannya dengan penerjemahan komik, yang menggambarkan percakapan atau dialog tokoh.  Jadi, penerjemahan komik sebaiknya di dasarkan pada jumlah karakter percakapan tokoh dalam balon. Mislnya ada 30 karakter, sebaiknya di dalam terjemahannya juga terdapat 30 karakter. Sebaiknya tidak melebihi dari jumlah karakter tersebut. teknik penerjemahan yang di pergunakan berkaitan dengan teks, konteks dan proses. Misalnya, teks sumber menjelaskan mekanisme koherensi, kohesi dan perkembangan tematik. Analisis teks sumber menjelaskan semua elemen ekstratekstual yang berkaitan dengan konteks sumberteks dan produksi penerjemahan. Vinary dan Darbelnet dalam Translation Techniques Revisited: A Dynamic and Functionalist Approach (Molina and Albir, 2002: 4) mengajukan teknik atau prosedur penerjemahan, dengan istilah ‘procédés techniques de la traduction’.Mereka menetapkan tiga prosedur penerjemahan yang masih-masingmemiliki teknik penerjemahan.Penerjemahan harafiahTerjemahan harfiah terjadi ketika terdapat kedekatan atau kesetaraan struktur, leksikal, dan bahkan morfologi antara dua bahasa. Kesetaraan dua bahasa ini memungkin dapat terjadi penerjemahan harafiah. Teknik penerjemahan Terjemahan adalah:- Borrowing (pinjaman). Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan meminjam kata atau ungkapan dari BSU. Peminjaman itu bisa bersifat murni tanpa penyesuaian atau peminjaman yang sudah dilakukan penyesuaian pada ejaan ataupun pelafalan.- Calque. Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa atau kata BSU secara literal.- Literal Translation. Penerjemaahan kata per kata. Teknik penerjemahan ini dilakukan bisaanya terdapat kesetaraan bentuk (gramatikal, leksikal, dan frase) antara dua bahasa. Oblique. translation Terjemahan Oblique terjadi ketika penerjemahan merupakan suatu keharusan untuk mencapai hasil terjemahan komunikatif. Prosedur penerjemahan ini mencakup teknik transposisi, modulasi, ekuivalensi dan adaptasi.- Transposisi merupakan teknik penerjemahkan dengan mengubah kategori gramatikal. Teknik ini sama dengan teknik pergeseran kategori, struktur dan unit. Kata kerja dalam teks bahasa sumber, misal, diubah menjadi kata benda dalam teks bahasa sasaran. Teknik pergeseran struktur lazim diterapkan jika struktur bahasa sumber dan bahasa sasaran berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, pergeseran struktur bersifat wajib. Sifat wajib dari pergeseran struktur tersebut berlaku pada penerjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia untuk menghindari interferensi gramatikal yang dapat menimbulkan terjemahan tidak berterima dan sulit dipahami.- Modulation. Teknik penerjemahan yang diterapkan dengan mengubah sudut pandang, fokus atau kategori kognitif dalam kaitannya dengan BSu. Perubahan sudut pandang tersebut dapat bersifat leksikal atau struktural.- Adaptasi (adaptation). Teknik yang digunakan dalam penerjemahan ini dengan menyesuai budaya bahasa sasaran. Dengan kata lain, unsur budaya yang ada di dalam Bsa ditemukan padanan budaya sedekat mungkin di dalam Bsa. Di dalam komik sering ditemukan unsur-unsur budaya, misalnya budaya materi, ungkapan bahasa, dll. Misalnya dalam bahasa Prancis penggunaan ungkapan “voilà” yang biasanya dikemukakan untuk memberikan sesuatu kepada seseorang. Pada contoh komik di atas, karena bayinya menangis menandakan lapar (haus) maka sang ibu lansung menyedorkan susu botol sambil berkata “voilà, voilà” yang dapat diterjemahkan menjadi, “minum, minum!” secara denotasi, kata voilà berarti ‘ini’, dan ‘itu’. Dalam konteks budaya Prancis, kata itu digunakan untuk memberikan sesuatu kepada seserang atau menunjukkan sesuatu (barang) kepadaseseorang.- Ekuivalensi. Teknik penerjemahan dengan menemukan padanan yang sama di dalam Bsa. Misalnya pribahasa dalam Bsu diterjemahkan dengan mencari pribahasa dalam Bsu yang memiliki padanan yang sama atau sedekat mungkin dengan Bsu. Teknik penerjemahan ekuivalansi dilakukan dengan menemukan penanda dan petanda yang sama. Misalnya idiom dalam Bsu disepadanankan dengan idiom dalam Bsa. Amplification and economy translation Amplification merupakan teknik yang digunakan untuk mengeksplisitkan atau menambahkan suatu kata untuk memperjelas makna yang akan dialihkan. Sebaliknya, economy translation adalah teknik yang diterapkan dengan penghilangan secara parsial, karena penghilangan tersebut dianggap tidak menimbulkan distorsi makna. Dengan kata lain, mengimplisitkan ainformasi yang eksplisit.Tahap penerjemahan KomikSetelah ditentukan komik sebagai teks sumber yang akan diterjemahkan, proses penerjemahan sudah dapat dilakukan. Tidak ada penerjemah tanpa memperhatikan peran konteks dalam menerjemahkan karena dengan konteks komik yang telah dipahami, maka penerjemah tidak begitu sulit untuk melakukan pengalihan. Dalam kasus penerjemahan komik, fokus perhatian penerjemah yang tidak boleh diabaikan adalah spesifikasi dimiliki komik – jumlah karakter (wordplasy, nama onomatope, kesesuain antar ekpresi gambar (tokoh) dengan bahasa verbal komik, yang terkadang hal ini menjadi kendala dalam penerjemahan.Metode Penerjemahan Adaptasi.Pentingnya pengetahuan tentang jenis-jenis teks bagi seorang penerjemah menentukan pula pemilihan metode penerjemahan. Bila penerjemah mengabaikan etnis atau kategori teks dengan tidak mengklasifikasikan teks yang akan diterjemahkan, penerjemah akan menghasilkan terjemahan yang tidak sesuai dengan teks bahasa sumber.Metode yang peneliti gunakan dalam menerjemahkan komik Nawadhir Juha li Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi ini yaitu metode penerjemahan adabtasi/saduran. Menurut Newmark, metode adabtasi ini disebut dengan metode penerjemahan yang paling bebas dan paling dekat dengan Bsa. Istilah “saduran” dapat diterima di sini, asalkan penyadurannya tidak mengorbankan tema, karakter atau alur dalam Tsu. Saat menerjemahkan dengan metode ini, seorang penerjemah biasanya tidak terlalu memperhatikan keteralihan struktur Tsa. Ia hanya memperhatikan apakah terjemahannya dapat dipahami dengan baik oleh si penutur Bsa atau tidak. Karenanya, metode ini dianggap sebagai metode yang paling bebas dan paling dekat dengan Tsa. Namun demikian, penerjemah tidak mengorbankan hal-hal penting dalam tsu, seperti tema, karakter, atau alur. Metode ini biasanya digunakan untuk penerjemahan drama, puisi, atau film. Ciri lain dari metode ini adalah terjadinya peralihan budaya Tsu ke budaya Tsa. Dengan kata lain. Ada penyesuaian kebudayaan dan struktur kebahasaan.Pada metode adaptasi karena yang menjadi orientasi keterbacaan pada Tsa, maka terjemahan harus bisa menyampaikan ide teks Bsu dengan luwes dan mudah dimengerti pembacanya. Keberpihakan pada pembaca membuat terjemahan initidak harus mengikuti gaya bahasa teks Bsu dan bahkan dapat menambah ataumengurangi elemen yang tidak begitu penting. Tentunya menyesuaikan denga teksapa yang akan diterjemahkan itu sebuah cerpen atau puisi maka hendaklahditerjemahkan menjadi sebuah cerpen dan pusis kembali pada Bsa.Teknik penerjemahan komik dan Metode adabtasi memiliki fungsi yang sangat penting dalam suatu proses penerjemahan. Apalagi dalam menerjemahkan teks yang peneliti akan terjemahkan. Kedua metode ini tak dapat dipisahkan, keduanya saling mengisi dalam menciptakan terjemahan yang mudah dimengerti..F. Metodologi PenelitianDengan menggunakan metode penelitian yang baik, hasil penelitian tentu akan lebih terarah. Saya menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan metode penerjemahan adaptasi. Penelitian kualitatif merupakan suatu strategi inquairy yang menekankan pencarian makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol, maupun dekskripsi tentang suatu fenomena, fokus dan multimetode, bersifat alami dan holistik, mengutamakan kualitas, menggunakan beberapa cara, serta disajikan secara narratif. Dari sisi lain dan secara sederhana dapat dikatakan bahwa tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menemukan jawaban terhadap suatu fenomena atau pertanyan melalui aplikasi prosedur ilmiah secara sistematis dengan menggunakan pendekatan kualitatif.  Metode kualitatif menjadi titik-tolak penelitian kualitatif, yang menekankan kualitas (ciri-ciri data yang alami) sesuai dengan pemahaman deskriptif dan alamiyah itu sendiri.  Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti.1. Sumber Data Adapun sumber data yang digunakan penelitian ini ada dua macam: Pertama, data primer yakni komik Nawadhir Juha li  Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi hasan.  Kedua, data sekunder yakni sumber-sumber lain yang mendukung data primer seperti situs www.hasanudin.id (komik Nawadhir Juha li  Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah), Kairo tulisan Syawqi, kamus Arab-Indonesia, internet dan data lain yang mendukung.2. Teknik Pengumpulan DataTahap yang saya lakukan untuk pengumpulan data ialah menggunakan metode:METODE CATAT. Dimana dalam metode ini penulis membuat coretan dari setiap kalimat yang sudah dibaca tadi dan ditulis sesuai bahasa sumbernya terlebih dahulu yaitu bahasa Arab. Setelah semua kalimat tercatat dengan baik dan benar, penulis melanjutkan dengan menerjemahkan kata perkata dari setiap kalimat menggunakan kamus mutarjim dan google translate. Lalu, terjemahan kata-perkata yang masih terkesan kaku itu dimodifikasi dengan penerjemahan komunikatif yang mana menyesuaikan pada pembaca umum. 3. Subjek dan Objek PenelitianSubjek dalam penelitian ini adalah komik Nawadhir Juha li Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi hasan Objek dalam penelitian ini yaitu terjemahan yang menggunakan metode adaptasi pada komik Nawadhir Juha li Al-athfal.4.Analisis DataAnalisis data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan teks komik Nawadhir Juha li  Al-athfal ((????? ??? ???????  terbitan al-Muassasah al-‘Arabiyyah al-Haditsah, Kairo tulisan Syawqi hasan. Kemudian penulis membuat coretan dari setiap kalimat yang sudah dibaca tadi dan ditulis sesuai bahasa sumbernya terlebih dahulu yaitu bahasa Arab. Setelah semua kalimat tercatat dengan baik dan benar, penulis melanjutkan dengan menerjemahkan kata perkata dari setiap kalimat menggunakan kamus mutarjim dan google translate. Lalu, terjemahan kata-perkata yang masih terkesan kaku itu dimodifikasi dengan penerjemahan komunikatif yang mana menyesuaikan pada pembaca umum. G. Sistematika PenulisanDemi mendapatkan pemahaman yang komperhensip, maka penulis merasa perlu untuk merumuskan sistematika penulisan sebagai berikut:Bab I adalah pendahuluan. Bagian pendahuluan ini berisi satu bab tersendiri yang terdiri dari enam sub-bab, yang meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.Bab II kerangka teori. Pada bab ini merupakan landasan teori yang terdiri dari: teori dari penerjemahan yang terdiri dari definisi komik dan metode penerjemahan adaptasi. Bab III metode penelitian.  Pada bab ini dalam metodologi penelitian membahas pengertian penelitian kualitatif dan memaparkan sumber data, teknik pengumpulan data, subjek dan objek penelitian, dan analisis data.