Untuk daya ekonomis (principal) dan manajer (agent) yang

Untuk mendukung penelitian ini, maka
perlu dikemukakan hal-hal atau teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan
dan ruang lingkup pembahasan sebagai landasan dalam pembuatan penelitian ini.

2.1.1      Teori
Keagenan (Agency Theory)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Seorang pemilik perusahaan tidak dapat
menjalankan dan mengawasi seluruh kegiatan operasional perusahaannya. Menurut
Kim, Nofsinger, dan Mohr (2010) pada umumnya terdapat pemisahan antara pemilik
perusahaan dengan manajemen yang akan mempengaruhi pertumbuhan dari bisnis
suatu perusahaan. Agar bisnis berjalan sesuai dengan yang diharapkan maka para
pemilik perusahaan atau pemegang saham akan mempekerjakan manajer yang menjadi
bagian dari suatu manajemen untuk menjalankan bisnis tersebut. Adanya pemisahan
kepemilikan antara pemilik perusahaan dengan manajemen yang menjalankan
perusahaan ternyata menimbulkan konflik di dalam perusahaan. Konflik ini
biasanya muncul karena kedua pihak akan berpikir untuk memenuhi kepentingan
masing-masing. Pemegang saham akan fokus pada peningkatan nilai perusahaan yang
akan berdampak pada kenaikan nilai sahamnya sedangkan manajer fokus pada
pemenuhan kepentingan pribadinya.

Scott (2003:305) menyimpulkan bahwa teori
agensi adalah pengembangan dari suatu teori yang mempelajari suatu desain
kontrak dimana para agen bertugas atas nama principal
ketika keinginan/tujuan mereka bertolak belakang. Jensen dan Meckling (1976)
menjelaskan hubungan keagenan di dalam teori agensi bahwa perusahaan merupakan
kumpulan kontrak antara pemilik sumber daya ekonomis (principal) dan manajer (agent)
yang mengurus penggunaan dan pengendalian sumber daya tersebut. Principal sebagai penyedia dana untuk
menjalankan aktivitas perusahaan, mendelegasikan kebijakannya kepada agent. Principal mempekerjakan agent
dalam perusahaan untuk melakukan tugas meningkatkan nilai perusahaan dan kemakmuran
pemegang saham, sedangkan manajer perusahaan mempunyai kecenderungan untuk memperoleh
keuntungan semaksimal mungkin dan cenderung tidak menyukai resiko. Manajer
tidak menanggung resiko atas kesalahan dalam pengambilan keputusan, resiko
tersebut sepenuhnya ditanggung oleh pemegang saham (principal). Oleh karena itu, manajemen cenderung melakukan
pengeluaran untuk kepentingan pribadinya. Forum for Corporate Governance in
Indonesia (2000) menyebutkan pemegang saham atau pemilik perusahaan hanya
bertugas mengawasi jalannya perusahaan yang dikelola oleh manajemen.

Agency
theory memisahkan fungsi pengelolaan
dan fungsi kepemilikan dalam perusahaan, sebagai konsekuensi dari pemisahan ini
terjadi berbagai macam konflik agensi. Menurut Meisser et al,. (2006:7), hubungan
keagenan ini mengakibatkan dua permasalahan yaitu: (a) terjadinya informasi
asimetris (information asymmetry), dimana manajemen secara umum memiliki lebih
banyak informasi mengenai posisi keuangan yang sebenarnya dan posisi operasi
entitas dari pemilik, sehingga mendorong agent
untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal; dan (b)terjadinya
konflik kepentingan (conflict of interest)
akibat ketidaksamaan tujuan, dimana manajemen tidak selalu bertindak sesuai
dengan kepentingan pemilik.

Holbeche (2005) menjelaskan bahwa ada dua
macam agency problems yaitu:

1.    
Moral hazard,
adalah suatu keadaan saat pemegang saham sebagai principal tidak dapat
melakukan pengamatan secara detail apakah manajemen sebagai agent sudah membuat
keputusan secara tepat.

2.    
Adverse selection, adalah suatu keadaan saat seorang agent
membuat pengamatan yang belum dilakukan oleh principal dimana hasil pengamatan tersebut dipakai untuk mengambil
keputusan. Principal dalam hal ini
tidak bisa mengecek apakah informasi hasil pengamatan agent telah dipakai
dengan baik untuk membuat keputusan yang baik sesuai kepentingan principal.

x

Hi!
I'm Johnny!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out